SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Cerpen Berharap Menikahi Tuan Muda

Menikahi Tuan Muda


Cerita Bersama Tuan Muda
Menikahi Tuan Muda adalah impianku yang merupakan gadis dari keluarga miskin. Tapi aku tahu itu juga impian banyak gadis lainnya. Bahkan gadis dari keluarga kayapun bertujuan sama.

Selalu bersama tuan muda, aku sering berkhayal. Digerebek warga lalu aku terpaksa menikahi tuan muda pasti aku tidak akan menolak.

Akan menjadi cerita pendek atau cerpen terpaksa menikahi tuan muda seandainya itu terjadi padaku. Tapi yang ku alami sekarang berbanding terbalik. Aku selalu bersama tuan muda dan tidak ada kemungkinan akan dinikahi jadi ini akan menjadi ceritaku yang panjang untuk mendapatkan cinta.

Kisahku bersama tuan muda tidak punya hubungan spesial. Aku hanya sebagai pelayan tuan muda. Tapi itu sudah membuatku bisa berbahagia setiap harinya. Karena setiap hari aku selalu bersama tuan muda.

Apalagi tuan muda yang tidak punya rencana untuk segera menikah membuat cerita cinta yang bertepuk sebelah tangan ini semakin jadi cerita panjang yang terus bersambung atau cerbung romantis tanpa ujung.


"Lia, ayo ikut aku!" Ucap Tuan Muda yang tiba-tiba datang.
Aku menyudahi menulis catatan di buku harianku dan memasukannya ke dalam tas dan segeram menjawab perintah tuan muda, "Ba baik tuan."

Aku berjalan di samping tuan menuju mobil. Dan tuan bicara, "Aku tidak suka menghadiri pertemuan para pengusaha seperti ini..."
Kami lalu masuk mobil, tuan yang mengemudi dan aku di sampingnya, dan aku bertanya, "Kenapa tuan? Bukankah menyenangkan bisa bersama orang-orang sukses seperti tuan."
Sambil menjalankan mobilnya tuan menjawab, "Mereka selalu bertanya kapan aku nikah?, mereka semua sudah nikah, cuma aku yang belum. Seharusnya mereka paham, aku satu-satunya yang muda diantara mereka. Aku baru berumur 20 tahun. Aku masih belum punya rencana menikah."
"Duk...duk..." Pintu mobil ada yang ngetuk di sebelahku. Aku segera membukanya.
Ayah tuan terlihat dan bicara, "Lia, catat ini sebagai rencana tuanmu, cari pasangan hari ini..."
Aku segera mengambil buku catatan dan menulisnya, "Sudah om."
Dan tuan, "Hanya memasang wajah senyum yang dipaksakan."
Ayah tuan lalu pamit, "Ayah masih ada kerjaan. Kalian berdua bisa duluan."
Kami lalu pergi.

Tuan terlihat tidak senang, pasti karena disuruh cari pasangan tadi. Tapi tiba-tiba dia menghentikan mobil dan wajahnya tersenyum sambil melihatku. Aku jadi salah tingkah, apa tuan muda memilihku untuk dinikahi.

Tapi ternyata salah, tuan muda menunjuk gadis yang berjalan di luar samping kaca mobil tempatku berada, "Kamu lihat, Lia. Gadis baju pink itu punya senyuman yang aku suka."
Aku melihat gadis itu secara seksama tanpa membuka kaca mobil, setelah aku perhatikan. Aku memberitahu apa yang ku pikirkan kepada tuan, "Dia bersama teman ceweknya, pakaiannya terlihat mewah. Sepertinya dia dari keluarga kaya."
Sambil kembali menjalankan mobil, tuan berucap, "Bersiap-siaplah untuk menconteng catatan dari ayah di bukumu itu, Lia. Aku akan jadikan dia pasanganku."
Meski kecewa tapi aku sebagai pelayan tuan harus mendukungny, "Kenapa kita pergi menjauh tuan, sebaiknya tuan hampiri dia langsung dengan menggunakan mobil tuan, pasti dia akan kagum melihat tuan pakai mobil mewah."
Ucapan tuan membuatku tercengang, "Pinggir jalan bukan tempat pakir, kita cari tempat pakir dulu."
Aku melihat sekeliling terus bilang, "Mobil lain ada yang pakir di pinggir jalan tuan!"
Dan tuan menjawab, "Mereka tidak tahu aturan. Meski cuma aku yang mematuhi peraturan, aku akan tetap lakukan."
Itulah tuan, sifatnya yang berbeda membuatku semakin tertarik padanya.

Kami pakir agak jauh, dan kembali ke tempat cewek baju pink itu menggunakan ojek. Memang menyusahkan tapi aku sudah terbiasa hidup seperti ini karena aku dari keluarga susah.

Saat kami sampai di sana. Tuan mendekati cewek baju pink yang lagi sama teman-temannya di sebuah restoran. Aku memperhatikan dari jauh. Aku kaget saat gadis itu menyiram tuan dengan minumannya. Aku segera menghampirinya dan memarahi cewek pink itu, "Apa yang kamu lakukan ke tuan?"
Dan gadis itu menjawab, "Oh kamu temannya ya, sebaiknya kamu ajak pergi temanmu bernama tuanudin ini. Aku tidak pantas berkenalan dengan dia yang berpakaian lusuh."
Aku segera menjawabnya, "Asal kamu tahu tuan..."
Tapi tiba-tiba tuan memberikanku perintah, "Ayo kita pergi Lia."
Aku masih kesal tapi terpaksa harus pergi. Dan saat kami pergi, cewek itu kembali berkata, "Hei, gadis bernama Lia. Kamu terlihat seperti gadis dari keluarga kaya dengan penampilanmu itu. Sebaiknya kamu berteman dengan kami bukan sama dia."
Darahku semakin naik jika aku terus di sini, aku segera keluar dari Restoran itu.
Tuan menghampiriku yang pergi duluan dan berucap, "Dia ngajak kamu jadi temannya tuh!"
Dan aku membalas, "Tidak sudi aku berteman dengannya."

Sambil berjalan menuju mobil kami, tuan melap wajahnya dengan kain saku yang kuberikan padanya.
Melihat tuan sedih, aku juga ikut sedih. Aku berusaha memberikan masukan ke tuan, "Mungkin Tuan bisa berpakaian seperti orang-orang kaya lakukan dan memperkenalkan diri dengan nama lengkap tuan, Tuanudin Hartawan. Mungkin cewek itu akan sadar, siapa tuan."
Dan tuan menjawab, "Aku suka pakaian ini, meski murah tapi nyaman dipakai. Kalau pakaian orang-orang kaya membuatku risih. Kan nama depanku itu namaku. Kalau nama belakangku adalah nama keluarga. Aku sedang kenalin diriku, bukan keluargaku."
Meski tuan susah dibilangin, aku menyukainya.
Dan tuan kembali bilang, "Kamu bisa kasih keterangan, di catatan ayah tadi. Aku sudah berusaha cari pasangan tapi gagal."
Aku kembali membuka catatanku dan mencatatnya. Karena itu pekerjaan utamaku sebagai pelayan tuan. Pekerjaan ini benar-benar cocok denganku yang hobi menulis.

Jarak pakir mobil ternyata tidak terlalu jauh. Hanya dengan berjalan saja, kami sampai dalam beberapa saat. Tapi kami tadi pakai ojek, hanya karena tuan kasian melihat ojek pangkalan yang terlihat sedih dan belum punya penumpang saat ditanya. Dia memang suka berbuat baik, seandainya cewek-cewek yang berusaha di dekati tuan itu tahu. Pasti mereka akan menerima tuan jadi pasangannya.

Aku lalu diantar tuan pulang karena sudah sore. Aku memang tidak pernah bersama tuan saat malam hari tiba. Tuan lebih suka menghabiskan waktunya di malam hari di rumah saja. Dia memang cowok baik-baik.

Bukan hanya diantar sampai di rumah, aku juga dijemput saat mau kerja dengan tuan. Hampir satu tahun, tuan selalu memperlakukan aku seperti itu. Bahkan tetanggaku mengira aku dan tuan adalah pasangan kekasih. Bahkan aku juga menganggap perlakuan tuan padaku memang pantas untuk disebut seperti itu.

Besok harinya, aku selalu bersemangat. Sudah tahu kenapa, ya, tidak salah lagi, karena tuan kembali menjemputku. Dia datang, dan di sambut kedua orang tuaku.

Meskipun sudah sering, yang dilakukan tuan masih selalu membuat kami gugup. Tuan selalu berpamitan pada kedua orang tuaku, "Bapak, ibu, saya izin pergi dengam anak anda. Saya akan menjaganya dengan baik."
Dan kedua orang tuaku sambil tersenyum aneh mengangguk. Mereka tahu tuan adalah bosku dan aku bawahannya tapi sikap tuan seperti aku adalah kekasihnya.
Aku bingung didalam hati aku senang sekaligus aku merasa tidak nyaman. Takut jika orang tuaku berharap lebih.

Aku diajak tuan ke rumahnya. Di sana aku menunggu di luar. Dia masuk untuk mengambil sesuatu. Saat aku duduk di teras. Ayah tuan datang menghampiriku. Aku segera berdiri, dan ayah tuan berucap, "Jangan sungkan, duduk saja. Kan ini sudah biasa kamu datang ke sini."
Aku mengangguk, berhadapan dengan ayah tuan selalu membuatku deg degan.
Ayah tuan lalu bicara padaku, "Bagaimana keseharian dia menurutmu? Om harap dia tidak merepotkanmu? Apa ada sesuatu yang ingin kamu laporkan tentang dia? Jangan ada yang dirahasiakanlah, bilang saja. Kalau dia kurang ajar padamu biar om kasih pelajaran."
Pertanyaan ayah tuan seperti pertanyaan ke calon minantunya bukan untuk bawahan. Itu yang selalu membuatku gugup, dan aku menjawab, "Dia sudah berusaha melakukan om inginkan, tapi dia gagal. Dia baik padaku om. Dia tidak merokok, gak mabuk-mabukan dan tidak ke tempat-tempat aneh."
Tiba-tiba tuan datang dan membawa tasnya, "Aku siap. Ayo kita pergi Lia." Ucap tuan sambil mencium tangan ayahnya. Dan ayah tuan juga mengarahkan tangannya ke aku, aku juga ikut mencium tangannya seperti kayak ke ayah mertua, apalagi saat ayah tuan bilang, "baik-baik sama anak om yah..."
Aku mengangguk. Adegan ini benar-benar gak kelihatan kalau aku anak buah anaknya.

Kami lalu pergi ke kantor Perusahaan tuan. Tuan kasih perintah, " Kamu duluan masuk, dan, panggil semua Manager Perusahaan siap-siap menghadiri rapat. Aku bawa mobil ke pakiran dulu."
Saat aku masuk, semua karyawan dan karyawati menunduk menghormatiku. Mereka memperlakukanku sebagai atasan kedua mereka setelah tuan. Mereka mengira aku adalah tangan kanan tuan karena selalu bersama tuan, dan juga tuan tidak pernah memperkenalkan diriku sebagai pelayan. Kata pelayan pun hanya pernah tuan ucapkan satu kali, itupun saat aku baru pertama kali diterima kerja oleh tuan. Jadi wajar jika perlakuan karyawan Perusahaan tuan seperti ini padaku.
"Panggil semua Manager!" Ucapku.
Seketika semua Manager berbaris rapi di hadapanku.
Dan aku langsung menyampaikan perintah tuan, "Siapkan diri kalian di ruang rapat. Tuan akan segera datang."
Serempak mereka menjawab, "Baik Nona Lia." Hal itu seakan membuatku seperti ada yang salah, aku padahal hanya pelayan tapi mereka menghormatiku lebih dari itu.

Tuan biasanya langsung menggunakan lift khusus dari tempat pakiran ke kantornya di lantai sembilan. Aku segera pergi ke lantak sembilan. Menyiapkan teh hangat dan masuk ke ruangan pemimpin nomor satu di Perusahaan ini, "Tuan, ini minuman anda!"
Tuan mengeluarkan bantal dari dalam tasnya, dan berucap, "Kamu letakan di meja. Kamu yang pimpin rapat. Aku mau tidur siang dulu."
Tentu aku kaget, "Tapi Tuan, aku sudah bilang ke mereka, tuan akan hadir."
Tuan telihat kesal, dia lalu berdiri, meminum air teh hangat buatanku, dan wajahnya kembali berseri, kemudian berjalan melewatiku, "Ya udah, ayo kita ke ruang rapat."
Aku segera mengikuti Tuan. Sambil menuju ruang rapat Tuan berucap, "Aku ingin membuat perusahaan ini terkenal. Kamu mintakan pendapat mereka."
Aku memandang dengan wajah bingung ke Tuan. Saat memasuki ruang rapat, terlihat semua Manager benar-benar terlihat cemas dan Tuan langsung berucap, "Kali ini, Lia yang memimpin rapat."
Aku kaget, "Tapi, tuan..."
Dan Tuan langsung keluar ruang rapat. Terlihat para Manager merasa lega. Tuan memang ditakuti semua karyawan dan karyawati di perusahaan ini, tapi aku masih tidak tahu kenapa.

Aku langsung duduk di bangku pimpinan rapat dan bicara, "Kalian bisa santai saja. Kita akan segera mulai rapatnya."
Semua Manager terlihat senang, dia duduk sambil tetap bersikap hormat padaku.
Salah satu Manager berucap, "Kami senang, anda kembali memimpin rapat lagi."
Aku langsung melakukan rapat, "Terima kasih atas hal itu. Di sini saya akan sampaikan. Tuan ingin membuat perusahaannya dikenal banyak orang. Jadi dia butuh masukan dari kalian. Kalian bisa diskusikan. Dan sampaikan melalui tulisan ke aku. Aku yang akan memilihnya. Temui aku di kantin."
Ucapku kemudian beranjak pergi.

Di kantin aku duduk dan karyawan yang sudah ada di sana, selalu memberikan senyumannya padaku. Bahkan cuma aku yang langsung dihampiri koki masak untuk menerima pesanan. Semua perlakuan yang mereka berikan padaku benar-benar membuatku seperti seorang Ratu kerajaan. Padahal aku hanya pelayan tuan. Ini semua tidak pernah ku dapatkan dulu. Di mana dulu aku selalu dihina dan bully teman-teman.

Setelah perwakilan manager memberikan sejumlah berkas. Aku memilihnya sambil makan siang. Dan setelah selesai aku kembali menghampiri tuan di dalam kantornya.

Saat di depan kantor, aku berpikir, apa tuan masih tidur. Dan aku juga sadar, tuan tidak pernah memarahiku. Kenapa aku harus takut untuk masuk ke ruangannya. Aku cuma melihatnya saja. Jika dia masih tidur aku bisa sampaikan berkas ini nanti. Tapi saat aku masuk terlihat tuan sudah berdiri menghadap dinding belakang yang terbuat dari kaca semua.

Aku berdiri di sampingnya. Tinggiku benar-benar pas sama tuan, itu membuatku senyum-senyum sendiri. Dan tuan bicara, "Aku tidak tahu kenapa, cewek-cewek tidak mau jadi pasanganku. Padahal sebenarnya aku juga ingin segera menikah. Itu membuatku sedih. Tapi aku bersedih, aku selalu memandang langit. Itu membuatku merasa baikan kembali."
Inginku berkata, "Hai tuan, lihat cewek di sampingmu ini. Ingin sekali nikah dengan tuan muda."
Tapi aku sadar diri. Aku bukan dari keluarga kaya meskipun, sekarang aku sudah menjadi orang kaya baru semenjak bekerja dengan tuan. Itu masih membuatku gak sanggup bilang, "aku mau dipaksa nikahi tuan."
Itu jadi membuatku bersedih.
Tiba-tiba tuan mengelus rambutku, "jangan bersedih, apapun itu yang membuatmu sedih kamu bisa lakukan yang aku lakukan untuk menghilangkannya."
Itu langsung membuatku membuatku benar-benar terpanah.
Dan seketika pecah saat tuan mengambil berkas di tanganku, "Wah, kamu pintar dalam memilih, saran ini aku juga menyukainya. Kita lakukan besok. Ayo aku antar kamu pulang."

Waktu kerja yang pendek. Tapi gaji tetap besar. Seperti yang aku alami pasti banyak diinginkan orang. Tapi cuma aku yang ingin waktu kerja panjang dan tidak apa gaji kecil asalkan terus bisa bersama tuan.

Besok harinya aku diajak tuan ke toko kamera. Sesuai saran saat rapat, tuan sambil mengenakan baju Perusahaan akan melakukan kebaikan yang direkam dengan kamera lalu diupload ke youtube. Di sana tuan berucap, "Kamera mana yang kamu suka?" tanya tuan.
Aku jadi bingung memilihnya dan penjual kamera itu lalu bilang, "Kamera ini, cocok untuk kekasih anda yang cantik."
Ucapan penjual itu membuatku terkejut, aku melihat ke arah tuan, dan tuan bahkan tidak protes dengan ucapan itu, justru kembali bertanya padaku, "Gimana, kamu suka kamera itu?"
Aku hanya bisa mengangguk, dan tuan lalu bilang ke penjualnya langsung, "Ok, aku beli itu."

Kami lalu kembali bekerja, kami menuju berteduh di bawah pohon, sejumlah orang sambil mengenakan baju bertuliskan perusahaan Tuan berdatangan dan melakukan penambalan jalan-jalan berlubang di sepanjang jalan kota. Tuan memberikan perintah, "Kamu rekam itu Lia!"
Aku segera melakukannya. Baru beberapa menit Tuan bilang, "Ayo kita pulang. Besok rekam lagi yang sudah selesai, baru kita upload."
Aku segara bilang, "Tuan gak ikut membantu sebentar, biar masuk dalam rekaman."
Dan tuan berucap, "Aku gak suka pencitraan. Ini semua aku lakukan cuma untuk membahagiakan orang tuaku."
Aku tersenyum mendengarnya.

Semenjak itu perusahaan tuan menjadi terkenal.  Dia melakukan yang sebenarnya bisa dilakukan orang kaya lainnya. Tapi orang kaya lain terlalu pelit tidak seperti tuan. Aku berharap ceritaku sama tuan terus berlanjut. Tapi semenjak perusahan tuan terkenal sebagai perusahaan paling membantu rakyat, para wartawan berusaha menemui pimpian perusahaan yaitu tuan. Dan tuan selalu menghindari mereka sampai-sampai mengasingkan diri bahkan diriku juga tidak mengetahui keberadaanya. Aku hanya bisa mendengar perintahnya melalui suara. Dia menjadikanku sebagai pemimpin kedua perusahaannya.

Akhirnya ceritaku bersama tuan berakhir. Akankah aku bisa bertemu tuan lagi.

(Selesai)
Related Posts

Related Posts

Post a Comment