SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Kehadiran Orang Ketiga (Eps 8)

Bu Merid menatap Pak Dewod dengan wajah yang seram, "Hp ku hilang saat di pasar. Jika aku hubungi kamu itu bukan aku."
Pak Dewod merasa lega dan segera menenangkan bu Merid yang sepertinya masih marah jadi berwajah seram gitu, "Kita jalan yuk, sekalian beliin kamu Hp baru!"
Terlihat senyuman di wajah bu Merid.

Pak Dewod juga mengajak kedua anaknya untuk pergi bersama. Mereka pergi dengan menggunakan mobil. Di tengah perjalanan mereka diberhentikan petugas. Petugas itu bilang agar istri Pak Dewod duduk di belakang, jangan di sampingnya, mengikuti peraturan pemerintah pusat. Padahal kasus pandemi di kota ini sudah berakhir tapi di daerah pusat sana masih belum, dan celakanya pemerintah pusat memukul rata kebijakannya ke seluruh wilayah.

Pak Dewod terbawa emosi, keluar dari dalam mobil dan memarahi petugas, sebaliknya petugas juga ikut memarahi balik Pak Dewod. Beruntung Bu Merid ikut keluar dari dalam mobil dan menenangkan pak Dewod.

Kemudian petugas itu kembali memerintahkan agar anak mereka yang di tengah mobil yaitu Yama dan Yana karena duduknya saling bersebelahan diminta salah satunya pakai Ojol (Ojek Online). Agar tidak saling berdekatan. Mengingat kedua anak kembarnya masih SD, membuat pak Dewod kembali emosi. Dia memarahi petugas itu tapi petugas itu balik memarahi dan merekamnya sambil bilang, kamu mau aku viralin.

Yama kemudian keluar dari mobil dan bilang, "Rumah Nenek, di sini dekat ayah, biar aku pergi ke rumah Nenek saja." Ucapnya.
Meski masih emosi, Pak Dewod memberikan pesan pada anaknya, "Yama, kamu jaga dirimu. Ini Hp ayah, nanti ayah hubungi kamu dengan ponsel Yana."
Yama menolak, "Gak bisa begitu Ayah, Ayah kan pernah bilang, jika kami berhasil mendapatkan peringkat tiga besar di kelas, Ayah akan berikan ponsel. Yana sudah berusaha keras untuk belajar dan mendapatkan Ponsel itu. Tidak adil jika aku mendapatkannya secara percuma. Kasian Yana yang sudah berjuang." Pak Dewod hanya bisa terdiam.

Akhirnya keluarga pak Dewod melanjutkan perjalannya. Ibu Merid duduk paling belakang, Yana duduk di tengah dan Pak Dewod duduk di depan menyetir mobil.

Setelah selesai membeli Ponsel baru Bu Merid. Mereka lalu pulang ke rumah. Pak Dewod masih emosi dan melupakan keinginannya menceritakan keanehan anaknya ke istrinya. Baru saja sampai di rumah Pak Dewod langsung pamit pergi kembali, tapi berusah dicegah bu Merid, "Bisa kah kamu kerja di rumah saja. Bukannya pemerintah meminta agar semuanya kerja di rumah."
Pak Dewod menjawab, "Saat ini listrik dinaikan tiga kali lipat oleh pemerintah. Rakyat juga banyak yang mengganggur karena usahanya semua dibatasi. Tidak perlu khawatir, perusahaanku terletak di tempat tersembunyi, Pemerintah tidak akan menemukannya. Rakyat membutuhkan listrik perusahaanku yang sangat murah. Dan juga butuh lowongan pekerjaan yang sedang aku buka. Selain itu, aku kerja di luar awalnya atas permintaanmu. Sekarang aku perusahaan ku sudah terlanjur menjadi besar dan sudah terlambat untuk ditinggalkan."
Penjelasan pak Dewod hanya bisa membuat bu Merid diam menyesal dan merelakannya.

Sesampai di perusahaan, pak Dewod mulai menerima calon pekerja. Dan salah satunya seorang gadis yang cantik dan bertubuh indah. Hampir membuat pak Dewod terpanah. Tapi segera melanjutkan tugasnya untuk melakukan wawancara, "Namamu, Aya. Apa keahlianmu, di surat lamaran tidak kamu tuliskan."
Dan Aya menjawab, "Tidak ada."
Membuat pak Dewod kaget, "Terus kenapa kamu melamar kerja di sini..."
Aya menjawabnya dengan santai, "Aku hanya mengadu nasib, jika aku tidak diterima bekerja di perusahaan ini maka memang takdirku untuk dipakai orang-orang dan merelakan kesucian yang ku jaga selama ini."
Tanpa pikir panjang pak Dewod menjawab, "Kamu diterima."
Membuat Ayu sangat senang, "Benarkah, sebagai apa? orang ketiga kah dalam keluarga anda."
Dengan cepat pak Dewod menjawab, "Bukan."
Dan dibalas oleh Aya, "Oh, anda sudah punya anak, berarti aku orang ke empat."
Pak Dewod teringat kata-kata pemilik gedung ini yang pertama bahwa jika ada hal buruk yang terjadinya di sini maka gedung ini kembali jadi angker, dengan cemas Pak Dewod menjawab, "Sekali lagi bukan, kamu diterima jadi karyawati di perusahaan ini tidak lebih dari itu."
Dan Aya menjawabnya dengan polos, "Tapikan aku gak punya keahlian."
Pak Dewod mulai tergoda dengan wajah cantik Aya, tapi berusaha menahannya dan segera bilang sambil berusaha menelpon seseorang, "Masalah itu bisa aku pikirkan nanti."
Tiba-tiba sosok berpakaian serba putih muncul. Membuat pak Dewod merinding seketika.

(Bersambung)
Related Posts

Related Posts

Post a Comment