SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Rumah Tangga Yang Didiskon (Eps 6)

Bu Merid bertanya, "Sayang, nih rumah horor banget. Banyak bunyi kreyot kreyotnya."
Pak Dewod menjawab, "Tenang saja sayang, itu benaran bunyi rumah ini karena aku bangunnya pakai kayu bekas rumah orang jaman dulu."
Bu Merid menatap suaminya dengan wajah kesal, "Kamu serius gak sih bangun rumah tangga..."

Tiba-tiba anak mereka datang dari sekolah, "Ayah... Ibu... Kami pulang..." Ucap Yana.
Kemudian terlihat Yama langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengucapkan satu patah katapun. Sedangkan Yana menghampiri kedua orang tuanya, "Aku ingin, sekolah di sekolah yang berbeda dengan Yama. Aku diejek teman-teman terus. Kembar tapi gak sama."
Dan ayahnya bilang, "Dengan sekolah di tempat yang sama, bikin pengeluaran juga sedikit. Jadi kalian harus..."
Tiba-tiba dipotong ibunya, "Ibu akan carikan sekolah baru untuk kalian. Yang berbeda."
Yana terlihat senang, "Serius bu..."
Dan dengan cemas Yana bertanta dengan ayahnya, "Kalau Ayah, gimana..."
Terlihat ayahnya pasrah dan bilang, "Ikut apa kata ibu."
Dengan gembira Yana pergi ke kamarnya, "Horeee."

Bu Merid melanjutkan pembincangan mereka yang tadi, "Kita sudah punya anak."
Dilanjutkan oleh pak Dewod, "Itu artinya aku dan kamu sudah lebih dari serius membangun rumah tangga. Aku harap kita hindari pertengkaran di depan anak-anak."
Bu Merid membalasnya, "Kamu juga harus peka sama anak-anak. Lihat Yama, sepertinya dia lagi ada masalah."
Pak Dewod meneruskan makan dan Bi Merid menatapnya, "Kamu kenapa?"
Bu Merid cuma diam.
Dan Pak Dewod beranjak pergi, "Iya-iya, aku hampiri anak laki-laki kita."
Pak Dewod lalu pergi ke lantai dua, tempat kedua kamar anaknya berada.

Cukup lama pak Dewod tidak masuk kamar anaknya setelah mereka mulai bersekolah, saat memasukinya lagi, dia kaget. Semua dinding memang di cat warna hitam seperti warna kesukaan Yama, tapi ada gambar coretan dengan warna merah memenuhi dinding meski ruangan tampak gelap dan redup, gambaran itu terlihat karena menggunakan tinta warna merah bercahaya. Pak Dewod terfokus ke salah satu gambar kuburan dan rumah di atasnya, lalu dia menanyakan ke anaknya, "Yama, kamu tahu rumah kita dulunya apa?"
Dan Yama menjawab, "Gak tahu, emang dulunya apa yah..."
Membuat pak Dewod lega, tapi masih merasa cemas, "Gak perlu kamu pikirkan. Sekarang ceritakan ke ayah. Kamu ada masalah apa? Kak Yana terus memarahimu ya!"
Dan Yama menjawab, "Ayah tanya langsung sama kak Yana..."

Dan pak Dewod kemudian menuju ke kamar Yana yang tepat di seberang kamar. Mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan. Dan kemudian mencoba membuka pintu dan tidak terkunci. Terlihat Yana duduk di kasur membelakangi pintu dan hanya mengenakan baju kaos dalam dan celana pendek yang langsung bertanya, "Ada apa ayah?"
Sontak membuat ayahnya kaget, "Kamu tahu ayah datang..."
Sambil bermain Hpnya, Yana tidak menjawab dan justru terus bertanya, "Ayah ada perlu apa?"
Ayahnya melihat kesekeliling ruangan, dipenuhi warna dinding putih sesuai pinta Yana, dan bersih tanpa coretan bahkan kotoran sedikitpun. Apalagi cahaya lampu yang sangat terang, ditambah lampu dinding yang banyak terpasang, "Kamu terlalu boros dengan listrik..."
Yana berdiri dan menghadap ayahnya, "Aku gak boros ayah, Yama kan hampir gak makai listrik sama sekali. Aku yang mengambil jatah listrik yang harusnya dia gunakan."
Bikin Ayahnya kesal, "Ayah gak suka bila kamu terus mengambil punya adikmu."
Sambil kembali duduk ke kasur, Yana menjawab, "Iya, aku tidak lakukan lagi."
Ketika mau pergi ayahnya ingin mengatakan sesuatu lagi, "Kamu juga perhatiakan pakaianmu. Tapi kalau merasa nyaman dengan pakaian terbuka kayak gitu. Paling tidak kunci kamarmu. Pakailah sesuatu sebelum membukakan pintu."
Yana terlihat kesal, "Kenapa sih banyak aturan di rumah kita sendiri."
Ayahnya pergi sambil bilang, "Kamu harus patuhi ."

Pak Dewod kemudian pergi menemui istrinya kembali. Menuruni tangga ke lantai satu. Dia tidak sabar untuk bilang, anak mereka aneh dan punya sifat yang sangat berbanding terbalik. Hanya satu langkah lagi untuk menyentuh lantai satu, tiba-tiba seisi rumah seakan-akan bergoyang. Membuat Pak Dewod menjadi ketakutan.

(Bersambung)
Related Posts

Related Posts

Post a Comment