SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Cerita Hidup Ini Tidak Adil Jadi Biasakan Dirimu

Seorang pemuda lulusan SMA sangat gembira dengan adanya pendaftaran Polisi. Dia yang dari bercita-cita menjadi polisi menantikan saat-saat ini. Dia datang ke kantor Polisi langsung dan berkata, "Saya ingin masuk Polisi!" Sambil menyerahkan surat lamaran.
Tanpa melihat surat lamaran, dan hanya melihat fisik pemuda itu. Polisi tersebut berkata, "Berapa tinggimu?"
Dia menjawab, "Cuma 150 cm. Tapi saya bersedia cuma jadi Polisi dibagian penangkapan pejahat. Tidak perlu tampil di publik."
Polisi itu berkata, "Maaf dik, kamu tidak memenuhi syarat."

Hidup Ini Tidak Adil Jadi Biasakan Diri Menghadapinya


Pemuda itu mencoba berusaha, "Saya punya video saya saat menembak jitu. Dan selalu kena sasaran."
Polisi itu agak kaget, lalu melihat video itu. Tampak pemuda itu menggunakan senjata mainan dengan jarak jauh dan mengenai kaleng. Lalu polisi itu berkata, "Tetap tidak bisa."
Pemuda itu meneteskan air mata. Lalu dia berbalik dan berlari. Tiba-tiba dia menabrak seorang gadis, "Maaf!" Ucap pemuda itu lalu terus berlari.
Gadis itu melihat ada Hp tergeletak di depannya. Dia memungut dan berbalik untuk bilang ke pemuda itu bahwa Hp nya jatuh, tapi pemuda itu sudah hilang dari hadapannya.

Gadis itu menghampiri Polisi, dan Polisi itu langsung bilang, "Wah, kalau adik memenuhi syarat untuk masuk Polisi."
Gadis itu bilang, "Saya gak mau masuk Polisi."
Polisi itu sedikit heran, "Oh, Hp itu. Biar titipkan di sini. Nanti mungkin pemuda itu balik lagi buat tanyain Hp nya."
Gadis itu menjawab, "Pemuda itu tidak memenuhi syarat masuk Polisi, tadi aku dengar, jadi kembalikan surat lamarannya padaku daripada dibuang dan dijadikan bungkus gorengan, dia pasti berusaha penuh perjuangan membuatnya. Di sana ada alamatnya kan. Biar aku kembalikan langsung ke dia." Ucap gadis itu sambil melihat video pemuda itu menembak jitu.
Polisi tentu tidak mempercayainya begitu saja, "Maaf, tidak bisa karena..."
Gadis itu langsung meletakan kartu namanya, "Aku pengacara, silahkan di cek."
Polisi itu melihat sekilas. Lalu menyerahkan surat lamaran pemuda itu.

Seorang gadis cantik, berpenampilan rapi dan terlihat kaya. Mendatangi sebuah pemukiman kumuh. Sontak hal itu menjadi perhatian warga sekitar. Dia lalu berhenti di depan rumah yang hampir roboh. Gadis itu ragu-ragu mengetuk pintu, takut ambruk. Tiba-tiba ada tetangga yang tanya, "Kamu cari siapa nona?"
Dia menjawab, "Aku cari pemuda yang tinggal di sini."
Si tetangga mengangguk, "Oh pemuda yang cuma tinggal seorang diri sendiri, dia udah pergi."
Si gadis itu bertanya lagi, "Kemana?"
Si tetangga jawab, "Tadi sempat tanya kedia, gimana masuk polisinya, dan dia malah jawab aku mau mengubur cita-citaku dalam-dalam."
Merasa tidak menemukan jawaban si gadis iti bertanya, "Ke arah mana dia pergi?"
Si tetangga menunjuk sebuah arah sambil berkata, "Dia kesana, menuju kuburan."
Si gadis itu kaget, "APAAA?"

Dengan berlari, si gadis itu pergi ke sana. Melihat kesekeliling kuburan lalu bernapas lega. Saat mau menghampiri pemuda itu dari belakang, dia mendengar pemuda itu berucap sambil berlutut di depan sebuah kuburan, "Maafkan aku ibu, ayah..."
Gadis itu melihat ke kuburan depan pemuda itu, ada nama perempuan dan di samping kuburan itu, ada nama laki-laki.
Pemuda itu lalu meneruskan kata-katanya, "...Aku tidak bisa mewujudkan impian kalian yang ingin aku jadi polisi. Jadi aku juga tidak bisa memenuhi keinginanku menangkap penjahat yang membunuh kalian. Maafkan aku, yang tidak berguna jadi anakmu..." Ucapnya dengan nada sambil menangis.
Gadis itu berucap, "Cita-citamu memang pantas untuk dikubur dalam-dalam..."
Pemuda itu terlihat kaget, dia berdiri dan berbalik hingga langsung berhadapan dengan gadis itu.

Sambil mengulurkan tangan, gadis itu berucap, "...Lalu aku bisa bantu kamu gali keinginanmu itu."
Sedikit ragu dan bingung, pemuda itu menjabat salam tangan gadis itu. Lalu si gadis berucap, "Namaku Sinta..."
Pemuda itu berkata, "Aku tahu hidup ini tidak adil, jadi aku sudah membiasakan diriku menghadapinya."
Jederrr, suara petir mengelegar. Kebetulan saat itu lagi mendung meski belum hujan.


Beberapa hari kemudian. Sinta makan bersama teman-teman perempuannya di sebuah restoran. Saat Sinta lagi asik makan. Teman-temannya saling bercerita.
"Kamu tahu gak, cerita horor yang sekarang sering terjadi. Banyak penjahat mati misterius."
"Ah misterius apanya, kan mereka mati karena ditembak, ditemukan peluru di jantungnya."
"Iya benar, tapi kan penembaknya tidak kelihatan..."
"Oh iya iya, misterius sih itu."
Sinta cuma diam dan meneruskan makannya. Kemudian mereka membicarakan hal lain, "Setelah dengar cerita kalian, Aku jadi punya ide mau buat cerita nih. Judulnya pertemuan pemuda dan gadis tidak saling kenal awal dari tragedi besar terjadi..."
"Uhukkk... Uhugkkk..." Sinta tiba-tiba tersedak dan batuk. Sampai nyembur ke wajah teman-temannya.
"Iiiihh, Sinta. Jijik tau. Kenapa sih ada yang salah dengan judul ceritaku?"
Sinta jawab, "Gak ada kok!"
Dan temannya seorang jaksa bertanya, "Apa jangan-jangan kamu tahu penyebab kematian penjahat secara misterius itu."
Dengan tenang sambil minum, Sinta berkata, "Mana ku tahu, itukan bukan urusanku. Harusnya kan kalian, pihak pemerintah, kepolisian dan Pengadilan. Atau mungkin, yang komentar di bawah ini tahu, tanyakan saja ke mereka."

(Selesai)
Related Posts

Related Posts

Post a Comment