SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Cerita Banci Jadi Cinta

Temanku bertanya, "Lina, kenapa kamu mau berteman dengan cowok banci itu? Apa kamu tidak malu!"

Dan aku menjawab, "Aku berteman dengan dia untuk menyembuhkan dia."

Aku lalu ditertawakan oleh temanku, Putri, "Hati-hati loh Lin, nanti cerita banci jadi cinta loh."

Dan aku jawab kesal, "Yang ada itu benci jadi cinta tau..."

Saat aku lagi duduk di kantin bersama putri, cowok yang kami bicarakan tiba-tiba masuk. Sekelompok cowok lain terlihat sedang membuli dia.

"Hei Angga si cowok aneh, jangan makan di sini. Bikin kami jijik saja."

Ucapnya sambil mendorong Angga hingga tersungkur. Mereka lalu lewat sambil menginjak tangan Angga.

Aku kesal dan menghadap para cowok itu dengan tatapan tajam. Pemimpin cowok itu berucap, "Kenapa kamu cantik? Naksir aku!"

Aku melewatinya dan langsung membantu Angga berdiri, "Kamu tidak apa? Apa perlu aku bantu kamu ke ruang UKS..."

Para cowok itu kemudian meledek, "Haha, momen lucu apa ini, cewek kok membantu cowok."

Dan aku berbisik ke Angga, "Abaikan mereka."

Angga hanya tertunduk.


Saat Angga duduk di kantin. Aku menemaninya. Saat dia berusaha makan. Aku mencoba menyuapinya, "Biar aku suapin, tanganmu kan masih sakit."

Sambil menatapku, Angga membiarkanku menyuapinya.


Saat pelajaran olahraga. Angga sekelompok dengan para cowok dan berlari. Hanya Angga yang terlihat tertinggal, bahkan sudah terlihat kehabisan tenaga. Pak guru olahraga lalu memarahinya, "Cowok macam apa kamu, masa udah capek lari sejauh ini..."

Aku lalu masuk lapangan dan menghampiri Angga, "Kamu pasti bisa Angga, berjuanglah sampai finis. Jika berhasil aku akan belikan boneka yang kamu suka."

Angga tersenyum. Dia terlihat bersemangat kembali dan berusaha berlari lagi. Pak guru olahraga menatapku heran. Aku tersenyum kemudian kembali duduk di pinggir lapangan.


Angga berhasil mencapai finis. Dia terlihat kelelahan. Aku menghampiri dan duduk di sampingnya. "Minumlah, biar capekmu hilang." Ucapku sambil memberikan botol minuman.

Dia menatapku.

Aku lalu mengeluarkan handuk kecil ku dan melap keringat di wajahnya. Dia lalu berucap, "Terima kasih, kamu sangat perhatian denganku."

Aku membalasnya dengan senyuman.

Tiba-tiba cowok tampan di sekolah datang menghampiri aku, "Kamu ada acara malam ini, Lina. Aku ingin ngajak kamu nonton. Kebetulan aku beli dua tiket bioskop. Film kesukaan kamu."

Dan aku berucap, "Aku tidak mau, Adit. Ajak cewek lain saja." Dengan nada ketus.

Dan Angga berucap, "Sama aku saja Dit, kebetulan itu film yang juga aku suka." Ucapnya sambil tersenyum.

Adit itu terlihat merinding lalu menjauh. Angga terlihat murung.

Aku lalu bicara padanya, "Jangan bersedih, nanti aku belikan boneka untukmu sesuai janjiku."

Dia lalu menatapku dengan penuh kebingungan. Dan aku membalasnya dengan senyuman, "Kenapa kamu menatapku gitu, aku jadi malu."

Dia langsung menunduk.


Malam harinya, aku menjemput Angga langsung ke rumahnya. Dan orang tua Angga terlihat kaget melihatku, "Kamu siapa?"

Dan aku menjawab, "Cari Angga bu, ngajak dia jalan."

Terlihat ibu itu terlihat senang. Kemudian Angga muncul, "Kamu, Lina. Aku sudah siap."

Saat mau pergi, ayah Angga muncul, "Angga!"

Angga melihat ke arah ayahnya, dan ayahnya berucap, "Jaga teman cewekmu baik-baik." Ucapnya sambil tersenyum bangga.

Angga menjawabnya, "I..iya ayah."


Saat kami jalan bersama. Angga bertemu dengan teman SMP nya dulu yang langsung menyapa, "Wah, kamu sudah sembuh Angga. Kenalin dong pacarmu yang cantik ini."

Saat Angga mau bilang, "Dia buk..."

Aku langsung berucap, "Namaku Lina, salam kenal."

Angga terdiam. Temannya lalu bilang, "Aku Rido, dan ini pacarku Sinta. Aku turut senang, Angga sudah sadar."

Dan aku bertanya, "Sadar dari apa..."

Rido terlihat khawatir, "Buka apa-apa. Kami pamit dulu ya."

Angga terlihat termenung 


Saat di toko boneka, aku menunjuk sebuah boneka beruang, "Lihat, boneka itu lucu. Giman menurutmu?"

Angga menjawab, "Iya, menurutku juga."

Lalu bicara dengan nada murung, "Tapikan boneka yang kamu impian, boneka kelinci."

Dia melihat ke arahku, dan aku mencoba bicara dengan senyum dipaksakan, "Ayo kita cari boneka kelincinya..."

Dan dia menahanku berjalan, "Kita beli boneka beruang ini saja."

Aku tersenyum gembira. "Baiklah, karena kamu juga menyukainya, aku akan belikan untukmu..."

Aku tanya penjualnya, "Boneka ini berapa?"

Penjualnya menjawab, "50 ribu, nona."

Aku berusaha mencari uang di dalam tasku dengan waktu yang lama. Hingga Angga berucap, "Biar aku saja yang beli."

Saat Angga keluarkan uangnya, dan cuma 20 ribu, dia terlihat malu. Dan segera aku tambahkan dengan uangku, "Biar aku tambahin, kita patungan." Ucapku sambil tersenyum dan memberikan uang 30 ribu.

Penjual itu menyerahkan boneka beruang itu ke aku dan aku menyerahkan boneka itu ke Angga, "Ini, bonekanya milikmu."

Dia terlihat berpikir, "Untukmu saja, anggap dariku."

Aku gembira dan berucap, "Kamu memang baik Angga."

Terlihat Angga tersenyum padaku.


Saat kami mau pulang karena sudah hampir larut malam. Kami tiba-tiba dicegat oleh sekelompok pria. Dan langsung mencoba merampas tasku. Aku mencoba mempertahankannya dan Angga mencoba membantuku. Pria itu mendorong Angga jatuh. Dan pria itu juga berhasil merebut tasku hingga tersungkur. Mereka pergi. Angga langsung menghampiriku, "Lina, kamu baik-baik saja?"

Dan sikuku terluka, aku menutupinya sambil bilang, "Iya, aku baik-baik saja." Ucapku sambil memaksakan tersenyum. Terlihat Angga terdiam. Tanggannya mengenggam kesal.

Aku berucap, "Ayo kita pulang, nanti orang tua kita khawatir."

Dalam perjalanan kami sama-sama terdiam. Lalu Angga berucap, "Maaf, sebagai teman cowokmu, aku tidak bisa diharapkan."

Dan aku bilang, "Gak apa-apa Angga ."


Semenjak itu Angga mulai duluan menghampiriku, seperti saat di sekolah. Dia bahkan memberikanku Bunga, "Apa kamu menyukainya."

Dan aku bilang, "Aku sangat suka, untukku kan..."

Dia mengangguk. Dan aku berucap, "Aku akan menanamnya. Agar bisa melihat keindahannya selalu."

Dia tertawa ringan, "Aku memetik dari batangnya. Gak akan bisa hidup jika ditanam. Tapi aku janji akan membawakan sama potnya." Ucapnya tersenyum. Dan aku membalas, "Janji ya..."

Tiba-tiba guru karate datang, "Hei Angga, kamu ngisi formulir pendaftaran kegiatan tambahan karakte kan, beneran nih?"

Angga berdiri tegak dan berucap, "Iya pak, biar aku bisa melindungi Lina."

Aku tersenyum malu sekaligus senang.


Saat Angga pergi. Putri datang menghampiriku, "Kamu benaran serius menyembuhkan Angga dari penyakit kelainannya itu, dan kayak Angga yang banci mulai cinta ke kamu?"

Aku tertunduk lesu, " Aku benci kamu bicara cinta itu. Sebaiknya jangan pernah kamu bahas itu lagi."

Putri tertawa, "Haha, kamu sepertinya terjebak sama permainanmu sendiri. Jangan bilang kamu juga mulai ada rasa sama Angga."

Aku manatapnya kesal.

Dan aku tercengang saat menyadari ada Adit yang juga menatap kami sambil tersenyum jahat.

"Selesai sudah cerita cintaku ini." Ucapku sambil menepuk jidat.

Related Posts
Newest Older

Related Posts

Post a Comment