SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Aku Nikah Dengan Sad Girl

Dia dari keluarga miskin, disabilitas, broken home, orang tuanya pisah, dia tinggal sama ibunya. Dia jadi tetanggaku. Rumah kami terlalu dekat hingga suara mereka sampai terdengar ke kamarku jika lagi bertengkar. Sampai aku bisa melihat mereka bertengkar lewat jendela masing-masing karena kamarku juga menghadap ke rumah mereka. 


Saat aku tahu dia korban kekerasan ayah tirinya ketika ibunya pergi. Bahkan saat dia bilang ke ibu kandungnya. Tapi ibunya lebih mempercayai atau lebih memihak ayah tirinya. Aku kasian sama dia. Jadi aku berpikir, ingin menyelamatkannya dari rumah neraka itu. Aku memberanikan diri untuk mengatakan ke orang tuanya untuk menikahinya. Meskipun aku cuma memperhatikannya dari jauh. Tidak pernah bicara dengannya. Tapi kami pernah tidak sengaja saling bertatapan ketika sama-sama buang sampah. Aku tersenyum ke dia. Tapi dia cuma menutup mukanya lalu pergi. Dia bukan tipe cewek yang ku suka, karena terlihat sombong dan tidak ramah.


Awalnya saat aku mau melamar dia, aku mengira ini tidak akan berhasil, dan aku cuma coba-coba saja. Dia pasti tidak mau aku nikahi. Tapi saat aku katakan niatku di depan orang tuanya dan juga dia, dia langsung bilang mau. Meskipun saat itu ayah tirinya tidak setuju. Tapi ibu kandungnya setuju, dengan alasan agar beban hidupnya bisa pergi.


Aku sengaja menyewa rumah baru, jauh dari tempat kami tinggal dulu. Untuk menghindari ayah tirinya menghampiri kami. Bahkan aku sengaja tidak memberitahu lokasi rumah baru kami ke mereka. Di rumah baru ini kami tinggal sebagai pasangan baru.


Saat malam hari, ketika masuk kamar. Dia duduk di kasur tanpa mengenakan apapun. Aku bilang ke dia, "Pakailah, pakaianmu. Nanti kamu masuk angin."

Dia tampak kaget. Lalu aku bilang lagi, "Aku menikahimu, cuma ingin menyelamatkanmu dari siksaan ayah tirimu itu saja." Kemudian aku pergi keluar kamar.


Aku menghabiskan waktu chatingan sama teman di teras rumah. Tiba-tiba aku merasa lapar. Aku berencana untuk makan di luar. Tapi aku ingat sudah punya istri. Jadi aku coba ajak dia untuk makan bersama. Ketika masuk kamar, dia sudah tidak ada. Hanya ada kertas bertuliskan, aku di dapur. Ya udah aku ke dapur. Dan terlihat di meja sudah tersedia makanan. Ternyata dia sudah siapkan makanan untuknya. Jadi aku tidak perlu ajak dia keluar rumah. Lalu aku bilang, "Aku mau makan ke luar..."

Dan dia bilang, "Aku sudah siapkan untukmu?"

Dan aku jawab, "Kamu saja yang makan. Aku sudah ada janji sama teman."


Saat aku mau keluar rumah. Dia memanggilku, "Lipan..." Aku menoleh ke belakang. Tampak dia berdiri di pintu dengan wajah sedihnya.

Aku dekatin dia lalu bilang, "Nita, Kamu tidak perlu khawatir. Ayah tirimu tidak akan mampir. Dia tidak tahu alamat rumah kita."

Dia lalu memberikanku jaket. Aku terima dan melanjutkan pergi.

Tapi dia kemudian tanya, "Kamu akan pulan larut malam?"

Dan aku jawab tanpa menoleh ke belakang. Aku bosan lihat wajah sedihnya, lalu bilang, "Sepertinya dan aku sudah bawa kunci serep, jadi kamu langsung tidur saja."


Aku menghabiskan waktu bersama teman-teman. Bahkan sampai lewat tengah malam. Saat rasa ngantuk sudah muncul baru aku pulang. Ketika di depan pintu, dan mau mengeluarkan kunci serep, tiba-tiba pintu terbuka. Nita ternyata yang membuka kan pintu. Aku kesal karena dia malah menungguku pulang. Tidak sadar aku marahin dia, "Kenapa tidak tidur... Nanti kamu sakit, aku yang repot."

Wajah dia tampak tercengang. Ah sudahlah, aku juga ngantuk.


Saat  aku masuk, dia bantu aku lepaskan jaketku. Dan aku bilang, "Kamu bisa pergi, aku bisa sendiri."

Tapi dia tanya lagi, "Kamu mau teh hangat?"

Dan aku bilang, "Tidak perlu. Aku mau tidur." 

Ucapku dan langsung pergi tidur ke kamar.

Selesai

Related Posts

Related Posts

Post a Comment