SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Dibohongi Suami Semenjak Sebelum Menikah

Saat Aku dirawat di rumah sakit. Aku membutuhkan donor darah jika tidak maka hidup Aku akan terancam. Sedangkan darah Aku sangatlah langka. Hingga Aku memohon kepada Sang Pencipta agar Aku diizinkan hidup lebih lama lagi dan jika ada yang mendonorkan darahnya ke Aku, jika dia perempuan akan Aku jadikah saudari Aku dan jika dia laki-laki Aku akan menjadikannya suami Aku. Seperti cerita-cerita dongeng dan mungkin karena Aku suka dengan cerita dongeng sampai-sampai Aku bawa ke dalam kehidupan nyata Aku. Janji Aku itu bisa dikatakan lucu. Aku Cuma gadis dari keluarga miskin tapi bikin janji kayak gitu.

Singkat cerita di saat Aku benar-benar sekarat Aku mendapatkan donor darah dari seseorang. Hidup Aku tertolong. Dan yang melakukannya adalah seorang laki-laki. Dia juga terlihat miskin. Dia mau mendonorkan darahnya asalkan biaya berobat dia dianggap lunas. Bukan hanya miskin dia juga penyakitan dan pasien di rumah sakit ini sama seperti Aku. Aku sudah terlanjur membuat janji. Aku bilang ke dia, “Aku mau kamu nikahi, jika kamu mau sama Aku.”

Dia mendekatiku hingga aku tersandar ke dinding. Lalu tangannya menyentuh dinding di samping kepalaku membuatku sulit bergerak. Meski aku takut dan gugup, aku hanya bisa diam.

Dia lalu berkata, “Benarkah, Aku jomblo sejak lahir. Jadi tawaranmu itu benar-benar akan membuat Aku senang. Tapi jika tidak itu akan benar-benar membuat Aku sangat kecewa.”

Aku bilang serius. Dan akhirnya kami setuju untuk menikah. Sebelum menikah saat sama-sama keluar dari rumah sakit, Aku sempat tanya, “Kamu kerja apa?”

Lalu dia jawab, “Aku pengangguran.” Aku sempat tercengang.

Kemudian Aku menghembuskan napas panjang, “Huhhhh... Aku tetap ingin menikah denganmu.” Aku tetap melanjutkan pernikahan seperti janji Aku meski bayarannya cukup mahal. Tapi Aku rasa cukup impas. Bayaran untuk memperpanjang hidup Aku dengan hidup tambah sengsara. Aku terima karena Aku menganggap hidup bisa diubah meskipun sudah ada bocoran kisi-kisi sengsara dalam hidup berumah tangga Aku ke depannya.

Lalu Aku bilang, “Berjanjilah, saat aku jadi istrimu. Maka jadikan aku sebagai motivasi kamu untuk terus melamar kerja tidak mengenal lelah sampai diterima kerja.”

Dan dia mengiyakan, lalu dilanjutkan dengan mempersiapkan pernikahan. Aku mengajak dia untuk ke rumah aku untuk bilang ke orang tuaku. Saat aku ingin memberhentikan angkot dia bilang, “Naik motor aku saja...”

Aku cukup lega, dia masih punya motor, gak miskin-miskin amat. Tapi setelah melihat motor dia yang amat butut. Aku kembali menarik nafas panjang. Dan Aku bilang, “Seharusnya aku bisa menduganya.”

Aku tetap bersedia dia bonceng dengan motornya. Di tengah perjalanan. Motor dia mogok. Dia bilang, “Ini pertama kalinya motorku bonceng seseorang. Mungkin dia gugup atau tenaganya memang tidak siap menerima tambahan beban, jadi gini...”

Aku turun dan bilang, “Biar aku dorong, mungkin motornya bisa nyala lagi...”

Dia malah tersenyum. Sikapku benar-benar konyol, gak ngerti motor, jadi wajar dia mentertawakanku. Dan dia bilang, “Kita jalan sama-sama. Di dekat sini ada bengkel.”

Setelah meninggalkan motornya di bengkel. Kami melanjutkan perjalanan dengan naik angkot. Akhirnya kami sampai di rumah orang tuaku. Dia langsung bilang ke orang tuaku, “Aku ingin menikahi anak anda.”

Orang tua Aku melihat ke arah Aku, “Jika, anak kami setuju maka kami tidak masalah.”

Aku menganggguk. Dan pernikahan langsung diadakan. Kebetulan di dekat rumah Aku ada kantor KUA. Setelah selesai menikah, suami Aku pamit pulang buat ngambil motor dia di bengkel dan kembali lagi ke sini buat bawa Aku ke rumah yang dia sewa.

Saat suami Aku pergi, Aku juga bersiap-siap dengan menyiapkan pakaian yang akan Aku bawa. Ibu dan ayah Aku menyediakan banyak bawaan bahkan sampai lebih dari satu tas. Dan Aku bilang, “Ibu satu tas saja sudah lebih dari cukup. Aku takut kalau kebanyakan tas, motor suami Aku gak kuat. Bawa aku saja sudah gak kuat. Dan satu tas ini saja Aku masih ragu.”

Dan ibu bilang, “Tapi ini kan, barang-barang kamu dari kecil sampai besar seperti saat ini. Kamu pernah bilang, ini barang ke Akunganmu.”

Sebenarnya Aku ingin bawa. Tapi mengingat motor suami Aku, Aku jadi terpaksa merelakannya dan cukup membawa pakaian saja. Dan Aku Cuma mengucapkan ke Ibu, “Gak apa-apa bu.”

Kemudian tetangga kami datang dan bilang, “Nikah kok sama-sama miskin. Kamu menyia-nyiakan kecantikanmu.”

Meski kesal, aku cuma bilang, “Mungkin sudah jodohnya.” Dengan nada ketus.


Tiba-tiba datang sebuah mobil. Dan kami semua kaget, saat yang keluar adalah suamiku, lalu dia bilang, “Motorku gak ada harapan buat hidup lagi. Jadi aku sewa mobil.”

Tetangga kami bilang, “Hampir saja kamu mati terkejut. Nyewa mobil ternyata.”

Suamiku terlihat bingung. Langsung ku tegur, “Gak usah dipikirkan. Kalau gitu ayo kita berangkat.”

Suamiku langsung bergegas mengambil tasku dan juga yang disiapkan orang tuaku. Kami pamit kemudian pergi.


Tiba-tiba aku merasa curiga, “Kamu dapat uang dari mana bisa sewa mobil?”

Dia bilang, “Aku jual motorku dalam bentuk perbagian jadi suku cadang, jadi uangnya bisa aku pakai buat sewa mobil sehari saja.”

Aku kaget, “Jadi kita gak punya motor lagi?”

Dia cuma tersenyum cengengesan. Dan aku terima hidup rumah tanggaku tambah miskin lagi. Udah terlanjur juga. Dan aku bilang, “Lain kali kalau memutuskan sesuatu bilang aku dulu ya, karena sekaran aku sudah jadi istrimu.”

Dia jawab, “I iya. Dan aku mau bilang, aku udah telat beberapa bulan buat bayar sewa rumah. Jadi aku diusir...”

Tentu aku kaget, “Apa? Jangan bilang kita tidur dijalan dan hidup gelandangan!”

Dia tersenyum, “Itu tidak perlu khawatir. Kita akan tinggal di rumah temanku.”

Kagetku berubah jadi cemas, “Kita numpang hidup di rumah orang.”

Dan dia bilang, “Bisa dibilang gitu. Daripada kita hidup di jalan.”

Aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang, “Hahhhh”


Saat sampai di rumah yang dimaksud suamiku, aku menjadi curiga, “Bukannya ini seperti rumah baru selesai dibangung?”

Dan dia bilang, “Kebetulan temanku selesai membangun rumahnya.”

Dan saat dia mengeluarkan kunci untuk membuka gerbang rumah itu, aku semakin curiga, “Mana temanmu, kok jadi kamu yang buka sendiri rumah ini?”

Dia menjawab, “Oh apa aku sudah bilang, kalau temanku baru bangun rumah. Karena belum bisa nempatin. Jadi kita disuruh buat nempatin sementara biar gak kosong.”

Aku mengangguk, “Oh gitu. Jadi sewaktu-waktu kita bisa diusir dong.”

Dia bilang sambil tertawa cengengesan, “Hehe kayaknya iya, tapi setidaknya kita punya tempat berteduh sementara.”

Aku kembali menghembuskan nafas panjang, “Huhhhh”


Saat masuk ke rumah, aku agak terkejut karena di dalamnya sudah dilengkapi barang-barang baru. Sudah seperti rumah yang sudah siap ditempati langsung. Dan aku bilang ke suamiku, “Kayaknya temanmu sudah benar-benar siap mau tempati rumah ini sampai beli perabotan rumah tangga lengkap kayak gini.”

Dia cuma mengangguk.


Saat kami membereskan barang-barang bawaan kami. Ada bunyi bel di luar. Aku lalu menghampirinya. Dan terlihat sekumpulan ibu-ibu. Aku kemudian menemui ibu-ibu itu. Dan salah satu dari mereka bicara, “Kalian pasangan muda yang baru menikah ya?”

Aku tahu pasti ibu-ibu ini curiga sama kami, “Oh maaf bu, ini saya ada bawa buku nikah kami...”

Dan ibu-ibu itu bilang, “Kami percaya kok. Di sini cuma mau bilang, selamat datang di komplek perumahan ini. Di sini serba nyaman. Kalau mau bahan-bahan untuk memasak tidak perlu ke pasar. Setiap paginya ada mobil yang jualan itu datang ke sini.”

Aku cuma mengiyakan. Padahal belum tentu aku bisa beli kalau suamiku masih pengangguran, dia mau kasih aku uang dari mana coba?. Dan saat aku masuk kembali ke dalam rumah suamiku sudah ada dihadapanku dan kasih aku uang 200 ribu rupiah sambil bilang, “Kamu bisa pakai ini buat kita makan hari ini?”

Aku yang bingung dan curiga langsung tanya, “Kamu dapat uang ini dari mana?”

Dia jawab, “Itu uang tabunganku selama ini.”

Aku lega sekaligus kasian sama dia dan sama aku sebagai istrinya, “Baiklah, aku akan coba hemat dan pakai uang ini untuk keperluan penting kita saja.”


Malam itu kami langsung tidur bersama tanpa melakukan hubungan suami istri untuk malam pertama karena kami sama-sama lelah membereskan barang-barang. Sebelum itu kami makan, makanan bekal yang diberikan orang tua ku sebagai makan malam.

Keesekan paginya. Aku menantikan mobil penjual bahan makanan seperti yang dikatakan para tetangga baru kami. Dan benar, saat mobil itu tiba. Aku langsung bergegas. Berusaha lebih dahulu membelinya agar tidak tergabung dengan ibu-ibu kaya tetangga kami. Tapi saat tiba di sana. Ibu-ibu itu juga bergegas muncul dan kami berkumpul lagi. Aku bakalan terjebak gosip-gosip para ibu rumah tangga kalau kayak gini.


Bukannya menyapa penjual, ibu-ibu itu langsung menyapaku, “Sebagai orang yang berpengalaman dalam berumah tangga. Aku mau kasih tahu ke kamu yang baru berumah tangga. Sebaiknya masak masakan dengan pakai sayur toge yang banyak...”

Dan aku bilang, “Suamiku gak suka toge.”

Ibu lain bilang, “Wajarlah pasangan baru nikah, istrinya harus masak masakan yang disukai suaminya. Jadi jangan paksakan masakan sehat dulu.”

Aku hanya bisa senyum cengengesan. Lalu penjualnya bilang, “Apa suami mu suka ayam? Itu bahan makanan yang banyak di sukai orang loh. Sebaiknya beli yang paling mahal. Kualitasnya bagus dan rasanya pasti enak. Pasti suamimu gak kecewa.”

Aku malui merasa tidak enak dan gelisah tapi aku berusah berkata bohong demi menghemat anggaran rumah tangga kami, “Suamiku sukanya cuma nasi sama garam.” Aku berucap sambil memejamkan mata.

Dan benar dugaanku, mereka mentertawakanku, “Hahaha...”

Lalu mereka berkata, “Suamimu benar-benar lucu dan unik. Sebagai orang kaya seleranya amat berbeda dari kebanyakan orang kaya lainnya.”

Meskipun heran tapi aku cuma mengiyakannya saja. Aku segera bergegas pergi setelah mendapatkan yang aku inginkan.


Tiba-tiba aku dipanggil, “Ibu Lina... kan?”

Semua terdiam, berarti benar yang dimaksud adalah aku. Sambil berbalik aku jawab, “Iya...”

Seorang ojek online menyerahkan sesuatu ke aku, “Sesuai alamat dan untuk bu Lina, ini ayam pesanan ibu, ayam dengan kualitas terbaik. Biayanya sudah dibayar.”

Seketika para ibu-ibu menatap kagum ke aku. Aku cuma bisa tersenyum penuh kecemasan dan sambil menerima pesanan entah siapa yang pesan. Seperti ada yang salah. Aku langsung pergi menemui suamiku dan dia sudah ada di balik pintu masuk. Dia langsung menjelaskan tanpa aku tanya lebih dahulu, “Temanku salah kirim. Dia pakai alamat rumahnya yang baru seharusnya alamat yang lama.”

Aku bilang, “Kalau gitu, kita balikan.”

Dan dia jawab, “Dia tadi telpon ke telepon yang ada di rumah ini dan bilang, ambil saja buat kita karena dia sudah pesan lagi ke alamat lama dia.”

Aku masih merasa ada yang salah, “Tadi pengirimnya bilang untuk ibu Lina... Itu namaku kan.”

Dan dia jawab, “Kebetulan nama istri temanku juga Lina namanya. Nama lengkapnya Linati, kamu cuma Lina kan. Dan istri temanku panggilannya juga Lina.”

Aku cuma bisa menghembuskan nafas panjang, “Hahhh, baiklah. Aku masakan ayam ini untuk kamu.”

Dia tersenyum.


Setiap pagi, siang dan sore selalu ada yang mengantar bahan makanan. Tentu membuatku tidak habis pikir dan tanya ke suamiku, “Apa tidak salah, temanmu rutin melakukan kesalahan berkali-kali salah alamat kirim pesanannya.”

Dan suamiku selalu bisa jawab, “Temanku sudah terlanjur tanda tangan kontrak pesanan makanan untuk jangka 1 satu tahun di alamat barunya yang sekarang kita tinggali. Tidak bisa dibatalkan.”

Aku hanya bisa menerima karena alasan suamiku memang ada benarnya. Dan aku juga menanyakan tentang mobil yang dia sewa masih ada di garasi rumah, “Terus mobil itu udah sehari lebih di sini bukannya kamu bilang sewa mobil cuma satu hari?”

Suamiku jawab, “Kebetulan yang punya bisnis mobil punya bisnis baru. Jadi dia meninggalkan bisnis lamanya menyewakan mobil itu. Jadi daripada tidak ada yang ngurus mobilnya jadi diserahkan ke penyewa terakhir buat dirawat. Daripada terbengkalai dan rusak.”

Aku tercengang mendengarnya. Aku cuma bisa menghembuskan nafas, “Huhhh, baiklah.”


Aku dan dia sebenarnya sama-sama dari keluarga miskin. Tapi anehnya kami malah hidup seperti orang kaya. Semua yang kami miliki hanya titipan dari orang lain dan sewaktu-waktu bisa diambil kembali. Itu membuatku khawatir, apalagi melihat suamiku. Cuma di rumah. Gak mengerjakan apa-apa. Jadi aku nasehatin dia, “Apa sebaiknya kamu cari kerja. Dulu kamu pernah janji akan cari kerja setelah menikah. Jadi gak pengangguran kayak gini. Kita sebaiknya mengumpulkan uang, biar bisa membangun rumah sendiri. Inikah rumah orang, takutnya nanti kita di usir tiba-tiba.”

Aku memejamkan mata, takut dia marah karena merusak kesenangan dia lagi malas-malasan. Dan dia bilang, “Baik, aku akan segera cari kerja.”

Aku membuka mata perlahan, dan terlihat dia tersenyum manis. Aku membalasnya dengan senyuman cemas.


Siang suamiku cari kerja, dan sorenya dia pulang. Terlihat wajahnya sangat lelah. Aku membantu dia melepaskan sepatu dan baju serta bawakan tasnya sambil bilang, “Cari kerja di jaman sekarang memang sangat susah, jadi kamu harus sabar. Karena memang tidak mungkin saat cari kerja langsung dapat pekerjaan.”

Dan dia bilang, “Aku sudah dapat kerja, tapi di bangunan.”

Aku kaget, sekaligus cukup merasakan senang. Suamiku dari keluarga tidak kaya jadi memang wajar dapat pekerjaan cuma jadi kuli bangunan. Aku bilang ke suamiku, “Apapun pekerjaannya kita syukuri.”

Dia tersenyum sambil memberikan sejumlah uang, “Ini 3 juta uang hasil kerjaku.”

Aku kaget sekaligus curiga, “Bukannya kamu baru diterima kerja kenapa langsung menerima gaji?”

Dan dia jawab, “Kebetulan di tempatku bekerja, gaji dibayar duluan. Jadi pekerjaan menyusul.”

Aku tidak tahu harus bilang apa, “Baguslah kalau begitu. Kebetulan aku butuh buat beli kebutuhan kita.”

Dengan menggunakan mobil titipan, aku diantar suamiku ke tempat belanja.


Malam harinya, aku mencoba bicara ke suamiku, “Aku lagi datang bulan. Maaf tidak bisa memberikan malam pertama untukmu.”

Dan dia cuma bilang, “Iya aku mengerti.”

Giliiran dia kemudian yang bertanya, “Kenapa kamu sepertinya manahan keinginan belanja tadi?”

Aku lalu jawab, “Ini kan gaji pertamamu di bulan ini, jadi aku berusaha menghemat sehemat mungkin agar selama bulan ini kebutuhan kita cukup dan kita bisa menabung.”

Dia cuma mengangguk.


Keesokan harinya, suamiku masuk kerja saat siang hari dan pulang saat sore hari. Bahkan waktu kerjanyapun sangat sebentar kurang lebih tiga jam saja. Aku tanya saat dia pulang kerja, “Kok kamu kerjanya sebentar, nanti dimarahin bosmu yang udah bayar gajimu lebih dahulu...”

Dia menjawab, “Aku menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat, jadi tidak butuh waktu banyak. Bahkan aku dapat uang bonus oleh bos.” Dia lalu kasih ke aku uang 1 juta. Aku ingin tidak percaya tapi yang dikatakan suamiku masuk akal.


Setiap hari bahkan saat sudah satu minggu pernikahan kita, aku semakin tidak habis pikir dan bertanya ke suamiku, “Kok bisa kamu dapat uang bonus setiap hari?”

Dia jawab, “Aku melakukan pekerjaan dengan baik dan tidak pernah melakukan kesalahan. Sepertinya aku akan dapat uang bonus setiap hari dan terus-terusan. Jadi kamu tidak perlu berhemat lagi. Belilah yang kamu inginkan.”

Aku cuma bisa tercengang. Satu bulan lamanya. Aku yang cuma punya suami kuli bangunan, hidup dengan berkecukupan. Bahkan sudah setara kayak orang kaya. Aku bahkan bisa menafkahi orang tuaku di kampung. Suamiku tidak pernah melarang aku menggunakan uang untuk apa, yang penting aku bilang padanya.


Hingga satu tahun usia pernikahanku. Kami dikarunia anak kembar laki-laki. Aku senang melihat suamiku juga terlihat senang. Meski dia pernah bilang ingin punya anak perempuan. Tapi kenyataan berkata lain. Saat anak kami sudah berusia tiga tahun dan bisa bicara dan berjalan. Aku mencoba bicara ke suamiku. Rencana untuk memiliki anak lagi. Aku berharap bisa mendapatkan anak perempuan seperti yang diinginkan suamiku. Meski dia bilang, dua anak sudah cukup. Dia tidak ingin menambah anak lagi. Tapi aku bilang, “Meski kamu cuma kerja sebagai kuli bangunan. Tapi kamu selau dapat uang bonus dan gaji yang pasti. Itu sudah lebih dari cukup buat menafkahi anak-anak kita, bahkan jika lebih dari dua tidak masalah.”

Aku berhasil membujuk suamiku untuk mewujudkan keinginannya. Dan aku kembali hamil dan melahirkan anak kembar kembali, perempuan dan laki-laki. Kami amat bahagia. Terutama aku yang bisa mewujudkan keinginan suamiku yang selalu membahagiakanku. Namun, kasih sayang suamiku tetap sama. Tidak membedakan anak kami yang laki-laki maupun perempuan. Itu turut membuatku senang. 


Tiga tahun kemudian tepat saat pernikahan kamu berusia tujuh tahun, aku kebobolan dan kembali hamil. Aku sempat takut suamiku bakalan marah. Karena dia pasti tidak suka jika punya banyak anak. Meskipun selama pernikahan kami, dia tidak pernah marah. Hanya saja itu justru membuatku jadi takut membuat dia marah untuk pertama kalinya. Aku berusaha merahasiakannya. Tapi suamiku terus memanjakanku dan akhirnya aku terpaksa bilang bahwa aku hamil. Dia malah bilang. “Aku sudah tahu, apa boleh buat. Setidaknya kedepannya nanti kita lebih hati-hati. Dia tetap anak kita yang harus kita terima karena sudah dititipkan pada kita.”

Mendengar kata dititipkan aku jadi teringat sesuatu. Tapi aku berusaha tidak membahasnya sekarang. Karena lagi mengandung dan tidak ingin memberikan pengaruh buruk.


Saat aku melahirkan. Aku lagi-lagi meliahirkan anak kembar. Kali ini kembar perempuan. Setidaknya itu membuat suamiku merasa senang. Meskipun ekspresinya dari anak pertama dan terakhir ini tetap sama. Perkataan dia yang suka anak perempuan membuatku curiga. Lalu aku bertanya, “Rumah dan mobil yang kita pakai itu titipan? Sampai sekarang gak ada tanda-tanda mau diambil kembali dan kamu yang cuma kerja kuli bangunan, selalu dapat uang bonus tanpa kecuali di tambah gaji yang pasti. Aku rasa itu sangat aneh. Apa ada yang kamu sembunyikan? Jangan bilang kamu membohongiku?”

Dia terlihat murung kemudian menjawab, “Sebenarnya aku membohongimu sejak sebelum menikah!”

Tentu aku kaget, “APA....”

Dia kemudian melanjutkan bicara, “Aku suka mengoleksi motor antik saat sebelum menikahhimu. Motor butut yang pertama kamu temui itu salah satunya. Rumah dan mobil yang selama ini bersama kita itu juga milikku bukan milik teman dan orang lain. Aku juga kerja sebagai Bos di perusahaan Kontruksi dan Bangunan.”

Aku benar-benar terkejut dan sangat marah. Aku kesal selama ini dibohongi terus-terusan. Aku memutuskan untuk bercerai  dengan suamiku.

TAMAT

Related Posts

Related Posts

Post a Comment