SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Cerita Cewek Cantik Mengemis Cinta Ke Cowok Jelek

Cewek Cantik Mengemis Cinta Ke Cowok Jelek

Cowok tidak tampan bernama Jaya dicegat cewek cantik bernama Lina ketika mau pulang sekolah. Lina berucap, “Aku suka kamu, maukah kamu jadi pacarku.”

Dan Jaya menjawabnya, “Tidak.” Sambil melewati Lina. Sontak itu membuat Lina kaget. Dia benar-benar kesal, dalam hati dia berucap, ‘Grrr, bisa-bisanya cowok jelek kayak dia menolakku.’

Keesokan harinya, Lina kembali menghampiri Jaya. Kali ini saat waktu istirahat tiba. Lina memberikan sesuatu kepada Jaya sambil bilang, “Ini jam tangan untukmu, sebagai hadiah ulang tahunmu.”

Dan Jaya membalasnya, “Aku tidak suka dirayakan. Simpan saja untukmu.”

Lina benar-benar hampir meledak-ledak. Dia berusaha menahannya, sambil menggerutu setelah Jaya pergi, “Sombong sekali dia bahkan hadiah dariku juga dia tolak.”

Teman-teman sekelasnya mentertawakan Lina, tapi Lina tidak peduli.


Dan keesokannya lagi Lina terus mengikuti Jaya hingga membuat Jaya terusik. Jaya lalu berpaling dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan?”

Dan Lina menjawab, “Jalan-jalan.”

Jaya membalasnya, “Kamu mengikutiku.”

Lina tersenyum, “Tidak, tapi mungkin tujuan kita sama. Bisa jadi kita jodoh.”

Jaya kembali bertanya, “Kamu mau ke mana?”

Dan Lina malah bertanya balik, “Kalau kamu mau ke mana?”

Jaya menjawabnya, “Aku cari kantin yang gak banyak orangnya.”

Dan Lina menjawab, “Sama. Aku juga.”

Terlihat wajah Jaya yang kesal.


Sesampainya di kantin, Lina lalu duduk di meja yang sama dengan Jaya. Itu membuat Jaya terusik, “Bukannya banyak meja kosong lainnya.”

Kemudian dijawab Lina, “Termasuk meja ini.”

Jaya membalasnya, “Ini sudah aku tempati.”

Lina tidak mau mengalah dan menjawab, “Tapi kursinya ada yang kosong.”

Jaya menghembuskan nafas panjang. Dia malas berdebat dan lebih memilih mengalah.


Saat makan, Lina bertanya, “kenapa kamu tidak suka aku?”

Jaya menjawab, “Kapan aku bilang?”

Lina terlihat bingung, “Terus kenapa kamu menolak cintaku...”

Jaya menjawab, “Kamu Cuma main-mainkan.”

Lina terlihat kaget, “Aku serius!”

Jaya hanya diam. Lina terlihat berpikir, kemudian pergi. Tidak beberapa lama dia datang kembali. Dan memberikan materai 6000 sambil bertanya, “Apa ini asli?”

Jaya melihat materai itu lalu menjawab, “Iya itu asli.”

Lina lalu menulis sesuatu di kertas yang dia bawa. Setelah selesai, dia menunjukannya ke Jaya, “Kamu lihat, di sini tertulis. Aku serius mencintaimu. Jika aku berbohong maka aku siap di penjara. Jadi apa kamu menerima cintaku.”

Jaya menjawabnya, “Sekarang aku percaya, kamu serius cinta padaku. Dan jawabku, tetap aku menolakmu. Alasannya kamu bukan tipeku.”

Lina tercengang, dia memegangi dadanya. Terlihat Jaya selesai makan dan bersiap pergi. Lina berusaha bicara, “Seperti apa tipe cewek yang kamu suka.”

Dan Jaya menjawab singkat, “Tidak sepertimu.”

Brukkk. Lina terjatuh dari kursinya.


Alasan Cewek Cantik Mengemis Cinta ke Cowok Jelek

Pernah kah kamu membayangkan memiliki kemampuan yang dapat mempredeksi masa depan berdasarkan pilihan yang kamu pilih. Itu yang dimiliki oleh Lina. Saat mengerjakan soal pilihan ganda, Lina cukup berpikir, ‘Apa yang terjadi jika aku pilih A atau B?’ Pikiran lain yang tidak dia pikirkan tiba-tiba muncul ‘Jika aku pilih A maka nilaiku 0, dan jika aku pilih B maka nilaiku 10.’ Jadi Lina memilih pilihan B. Dan itu alasannya Lina selalu mendapatkan nilai ujian sempurna. Bahkan dia tidak perlu belajar untuk mendapatkan nilai bagus itu. Sungguh kemampuan yang di impi-impikan semua pelajar.

Selain itu, kemampuan ini juga juga berdampak pada jalan hidupnya. Seperti suatu ketika ada cowok tampan bernama Dito yang mengatakan cinta ke Lina. Dan Lina berpikir, ‘Jika aku menerimanya apa yang terjadi?’ Pikiran baru muncul dan mengatakan, ‘Jika aku menerimanya maka aku akan dia tiduri, hamil, dia tidak mau bertanggung jawab meski berjanji bertanggung jawab, aku terpaksa menggugurkan kandunganku dan aku sekarat di rumah sakit.’

Terlihat ekspresi Lina yang kesakitan meski hanya memikirkannya saja, dalam hati Lina kembali berucap, ‘Sayang sekali padahal cowok tampan ini tipeku.’ Dan Lina lalu menjawab, “Maaf, aku menolakmu.” Ucap Lina kemudian pergi.


Dito tidak menyerah begitu saja. Dia kembali menghampiri Lina keesokan harinya. Kali ini dia mencoba menaklukan Lina menggunakan uang. Dito memperlihatkan foto dirinya bersama tumpukan uang kepada Lina, “Kami baru saja mencuri di rumah mewah. Kalau kamu mau, kamu bisa mengambilnya sesukamu? Jadi datang saja seorang diri ke gubuk tua itu dan ini alamatnya?”

Lina mengambil kertas yang diberikan Dito. Dito kembali bertanya, “Jadi apa jawabmu? Iya mau datang atau tidak!”

Seperti biasa setiap ingin membuat keputusan, Lina bertanya dulu dengan pikirannya sendiri. ‘Jika aku bilang iya, di gubuk itu sudah menunggu teman-temannya yang siap menyekapku, menikmatiku secara paksa dan merekamnya, dia menggunakan rekaman itu untuk mengancamku agar menjadi pacarnya. Dan jika aku bilang tidak maka dia akan cari tahu alasan aku menolaknya, dia akan tahu aku berusaha mendekati Jaya dan mencelakakan Jaya.’

Lina tampak pucat, dan dia bilang, “Aku akan jawab nanti.” Dia lau pergi sambil duduk sendiri di taman sekolah.

Lina terlihat kebingungan, ini baru pertama kalinya dia mendapatkan pilihan yang keduanya memiliki hasil yang buruk, “Bagaimana ini?” Ucap Lina sambil menangis. Meskipun belum terjadi, dia sudah tahu yang akan terjadi. Pikirannya tidak pernah salah.

Sambil menghembuskan nafas, Lina mencoba hal baru, ‘Bagaimana jika aku bilang iya tapi tidak datang?’ Dan pikiran baru muncul, ‘Dito akan kesal sampai memukul meja di gubuk tua itu. Meja itu terdapat lilin yang menyala dan membuat gubuk itu terbakar seketika. Dan menewaskan mereka semua.’ Lina terlihat tersenyum.

Lina kembali menemui Dito dan langsung bilang, “Baik, iya aku mau datang. Tunggu aku nanti pulang sekolah.”


Seperti rencananya. Walaupun berkata iya, Lina benar-benar tidak datang. Sampai hari besok, pagi-pagi sekali Lina menonton berita di Tv Lokal, dan benar muncul berita yang dia inginkan, “Sebuah gubuk tua terbakar dan menewaskan sejumlah pemuda di sana.”

Lina berkata dalam hati, ‘Bahkan kamampuan ini bisa melakukan hal mengerikan seperti itu.’ Rasa bersalah hampir muncul dalam benak Lina. Tapi segera tergantikan dengan tujuan lamanya, “Jadi aku jangan menyerah untuk mendapatkan cinta Jaya.Karena dengan bersama Jaya, aku akan hidup kaya meskipun saat ini dia miskin, aku akan menikah dengannya dan memiliki anak kembar seperti impianku, dan aku akan bahagia berumah tangga dengannya.”

Namun hingga Lina dan Jaya lulus SMA. Lina masih belum bisa juga mendapatkan cinta Jaya. Lalu Lina tidak bertemu Jaya lagi.


Beberapa tahun kemudian. Tidak sengaja Lina bertemu dengan Jaya setelah sekian lama mereka lulus Sekolah dan tidak pernah bertemu lagi. Terlihat Jaya sedang duduk termenung di taman kota dengan amplop coklat di sampingnya. Lina tersenyum dan mencoba mendekatinya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. “Dia pasti akan menolak apapun bantuanku lagi.” Ucap Lina.

Lina baru menyadari, dia belum pernah menggunakan kemampuannya untuk mendekati Jaya. Dia lalu mencobanya, ‘Jika aku mendekatinya dan membantunya mencari pekerjaan, apa yang akan terjadi...’ dan pikiran tanpa dia pikirkan muncul, ‘Jaya akan menerimanya, tapi aku tetap tidak berhasil mencarikan pekerjaan untuknya, dan dia semakin kecewa padaku.’

Lina menghembuskan nafasnya, “Tidak berguna.” Iseng dia mencoba menggunakanya kembali, ‘Bagaimana jika aku menghampirinya dan tidak membantu mencarikan pekerjaan?’ Pikiran baru muncul, ‘Aku menawarkan sesuatu lain, mempromosikan bakat yang dia punya, membuat dia menciptakan lapangan kerja sendiri, sukses, dan dia mulai menyukaiku.’ Lina tersenyum girang. Sampai di komentari anak kecil di sampingnya, “Bu, lihat kakak itu tersenyum sendiri, apa dia gila...”

Dan ibunya jawab, “Husss...” Sambil mengajak anaknya menjauhi Lina.

Lina langsung berhenti senyum, wajahnya tampak masam seketika. Tapi di dalam hati dia melanjutkan senyuman itu. Dan menghampiri Jaya. Untuk melakukan rencananya.

(Selesai)

Related Posts

Related Posts

Posting Komentar