SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Jangan Hukum Anak Yang Tidak Mau Turun Sekolah

Jika anak anda kadang susah atau bahkan tidak mau jika disuruh turun ke Sekolah. Dan itu membuat anda jengkel dan kesal. Meski demi kebaikannya di masa depan, jika anda terus paksakan itu akan berakibat buruk pada si anak. Saya tidak mengambil contoh pengalaman dari orang lain. Di sini saya akan ambil contoh dari pengalaman saya sendiri. Bisa dikatakan ini kisah nyata.

Saat SD dulu saya sering dibuli sama teman sekelas yang gak naik kelas. Dipukuli hingga dibikin menangis, sampai uang jajan pun diambil. Itu membuat saya tidak ingin turun ke sekolah. Dan ayah saya memaksa saya untuk turun sekolah, dipukuli bahkan direndam ke dalam bak mandi karena saya malas bangun tidur dan gak mau mandi apalagi berangkat ke sekolah. 

Mengenai kejadian di sekolah. Saat kecil rasa takut itu lebih besar. Meskipun tidak diancam sama anak-anak nakal itu, saat itu saya tidak berani bilang ke orang tua saya, anda bisa katakan saya bodoh, silahkan, tapi kalian tidak bisa menyamakan pikiran dewasa kalian dengan pikiran anak kecil seusia saya saat itu, saya baru hidup di dunia ini beberapa tahun saja ketika itu. Saya sama sekali tidak mengerti, laporkan atau bilang ke orang tua maka pelaku bisa di hukum. Saya tidak mendengar kalimat seperti itu saat kecil. Orang tua saya tidak pernah tanya, saya punya masalah apa di sekolah?. Yang mereka tanya dapat nilai berapa?. Ulangan saya dapat nilai Nol. Gak ada hasilnya bukan!, dipaksa turun sekolah. Dan akhirnya ibu saya yang ngajarin saya di rumah. Dan sekarang video ibu marahain anaknya saat ngajarin bisa kalian saksikan di media sosial saat ini. Seakan sekolah itu gak ada gunanya, bukan bikin pintar cuma cari nilai. Orang tua saya ngajarin saya sambil pukulin saya karena memang pelajaran gak masuk-masuk.

Saya bahkan tidak bisa membaca sampai kelas 3 SD. Saya dinaikan dengan nilai ulangan selalu dapat nol tapi di raport malah dapat nilai standar. Entah emang kurikulum atau apalah, saat itu cukup berlaku baik di sekolah maka bisa naik kelas. Karena saya baik dan tidak pernah melakukan kesalahan di sekolah saya dinaikan.

Dulu mungkin karena saya selalu sendiri jadi sasaran empuk untuk dibuli. Saat kelas 4 SD saya berteman dengan teman-teman yang juga korban Buli. Meskipun cuma tiga orang, saat waktu istirahat tiba kami selalu bersama. Saya mulai kurang mengalami tindakan Buli. Dan anehnya lagi, saya mulai bisa membaca, apa yang diajarkan ibu saya bisa saya tangkap alias masuk. Awal saya bisa membaca, saya langsung suka membaca cerita. Bahkan saat mendapatkan tugas mengarang cerita, sejak saat itu saya juga mulai menyukai menulis. Saya bisa meluapkan semua yang saya pendam dalam tulisan. Itu yang membuat saya suka. Rasanya plong, lega, emosi bisa terluapkan. Tapi apakah itu sudah cukup untuk mengubah masa lalu kelam. Jawabnya tidak.

Ingatan saya, saat dipukul dan disiksa sama ayah saya berbekas sampai saat ini. Beruntung saat itu ada ibu yang menghentikannya dan membuat saya masih bisa hidup dan menuliskan cerita ini ke kalian. Sayangnya ibu saya meninggal saat saya kelas 5 SD. Di saat saya sudah bisa membaca. Di saat saya sudah bisa mengerti yang diucapkan ibu. Disaat saya bisa membanggakan ibu, walaupun dengan hal kecil bisa membaca menulis saja. Sedih, hati saya hancur. Sosok pelindung saya telah tiada. Apakah saya bisa selamat dari ayah. Entah ini hal menyenangkan atau tidak. Tidak beberapa lama ayah menikah kembali dan meninggalkan saya.

Saya dirawat nenek, ibu dari ibunya saya. Sampai sekarang. Saya bahkan sudah kerja. Di Kantor Polisi di kota saya lahir. Gaji saya cukup besar. Ayah saya mulai menghubungi dan bersikap baik pada saya. Saya meresponnya baik. Tapi saya tidak punya dorongan untuk memberikan sedikit penghasilan saya ke ayah. Sangat berat rasanya. Entah apa yang terjadi setiap muncul keinginan untuk kasih uang ke orang tua yang masih hidup, ayah saya. Selalu diringin dengan munculnya ingatan masa lalu saat ayah menyiksa saya. Saya malah memberikan sebagian penghasilan saya ke nenek. Sampai beliau bisa naik haji. Beliau tidak pernah menyakiti saya. Jikapun ibu saya masih hidup, saya mending milih kasih uang ke ibu dibandingkan ayah. Pukulan ayah lebih keras dibandingkan pukulan ibu. Mungkin itu juga resiko anda bagi orang tua yang sering mukuli anak anda dan memaksanya sekolah saat dia tidak mau, dan anda tidak tanyakan masalah dia di sekolah tapi langsung main hukum saja. Suatu saat nanti saat dia besar, anda tidak akan bisa mendapatkan bantuan darinya lagi.

(Selesai)

Related Posts

Related Posts

Posting Komentar