SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Laki-Laki Yang Diizinkan Masuk Kamar Mandi Umum Khusus Wanita

Aku baru diterima sebagai Pegawai Pemerintah dengan senang gembira aku pergi ke Lokasi bekerja. Dengan menggunakan Sepeda aku pergi dari Desa tempatku tinggal menuju Kota. Aku pergi bersama seorang Wanita bernama Beti yang sudah lama aku dekati. Beti kebetulan juga menuju Kota untuk menemui kakaknya yang menawarkan pekerjaan. 

Namun saat dalam perjalanan kami berpapasan dengan sebuah mobil. Mobil itu berhenti dan pengendaranya seorang laki-laki keluar dan menghampiri kami. Laki-laki itu ternyata teman lama Beti, yang langsung di sapa Beti, “Candra, lama tidak bertemu?”
Ternyata nama laki-laki itu Candra, dan dia juga menyapa, “Iya Beti, sudah cukup lama. Kamu mau ke mana pakai Sepeda dengan laki-laki itu?”
Aku hanya diam, dan Beti memperkenalkan aku, “Dia temanku, namanya Aju. Kami mau ke kota...”
Dan Candra langsung berkata, “Kebetulan aku mau ke kota, mau ikut aku aja Beti...”
Kaget aku karena jelas-jelas mobilnya mengarah menjauhi Kota. Dan alangkah terkejutnya aku saat Beti berkata, “Benarkah? Aku mau.”
Mereka lalu pergi bersama dengan menggunakan mobil meninggalkan aku. Aku benar-benar kecewa dan sedih. Padahal aku mau mengatakan cinta pada Beti saat aku mendapatkan gaji pertamaku nanti. 

Aku bersepeda melanjutkan perjalananku dengan hati yang sangat sakit. Hingga aku tidak sanggup mengayuh sepeda lagi dan berhenti di salah satu kampung. Aku berhenti di sebuah lapangan yang cukup banyak orang di sana. Aku lalu duduk di kursi kosong.
Tiba-tiba aku dihampiri oleh gadis desa di sana. Dia berkata, “Laki-laki dilarang menangis.” Lalu dia duduk di sampingku. Dan kembali berkata, “Cuma wanita yang boleh menangis.” Setelah berucap begitu dia beneran menangis. Air matanya mengalir, “Aaaaa hikssss...” Dia menangis dan berusaha menahan suaranya.
Aku hanya bisa diam, meski ingin rasanya aku bertanya. Tiba-tiba dia berhenti menangis dan bilang, “Terima kasih telah mengizinkanku menangis di sampingmu.” Ucapnya seperti sudah merasa lega.
Aku pun bertanya, “Kenapa kamu menangis?”
Dan dia jawab, “Sebelumnya perkenalkan namaku Devi, aku menangis karena pacarku bekerja di luar kota dan memutuskan hubungannya dariku.”
Seakan ceritanya kayak ada hubungan denganku, dan aku Cuma bisa berucap, “Namaku Aju.”
Dia lalu berkata kembali, “Sebenarnya aku ingin menangis sendirian. Tapi nanti ada laki-laki buaya darat yang menghampiriku. Begitulah kalau wanita cantik menangis. Jadi aku menangis di sampingmu. Dan laki-laki itu harus kuat, kalau dia menangis, wanita akan menganggap kamu lemah.”
Aku Cuma bisa kagum dengar kata-katanya, “Terima kasih.” Bahkan aku sudah melupakan alasan aku menangis.
Kemudian Devi pamit pergi, “Kalau gitu aku pergi duluan ya, Aju...”
Dan aku berucap, “Semoga kita bisa bertemu lagi.”
Dia Cuma tersenyum.

Aku kembali melanjutkan perjalanan dengan hati yang sudah tidak sakit lagi. Namun saat aku tiba di kota, aku terkejut. Tepat di tengah gedung-gedung tinggi, ada suara ledakan yang muncul dan seketika puncak-puncak gedung berasap. Beberapa orang berlarian dan memasuki sebuah gedung yang sama. Akupun ikut masuk.
Di dalam gedung terdapat Polisi yang berkata, “Telah terjadi serangan Teroris, tapi kalian tidak perlu panik. Pemerintah sedang menanganinya. Untuk sementara kalian akan mengungsi di gedung yang sudah aman ini.”
Aku benar-benar bingung. Di tempat seperti ini tidak ada satupun yang aku kenal. Tiba-tiba ada sekelompok orang menunjuk ke arahku. Mereka berlari menuju ke arahku. Sontak itu membuatku takut dan ikut berlari menjauh. Aku berlari kencang dan semakin masuk ke dalam gedung. Melewati kumpulan orang-orang. Dan tanpa sadar aku masuk ke dalam sebuah ruangan untuk sembunyi. Perlahan aku semakin masuk ke dalam ruangan itu, dan alangkah terkejutnya aku, tanpa aku sadari aku ternyata masuk ke dalam kamar mandi umum wanita.

Terlihat beberapa wanita sedang mandi di bilik-bilik ruangan yang tersedia di samping kanan dan kiri. Ruangan kecil itu hanya terdapat dinding sebatas pinggang sehingga yang mandi di sana terlihat. Mereka melihat ke arahku. Kaki gemetar dan siap untuk kena marah dan di usir oleh mereka, namun mereka hanya diam lalu melanjutkan kegiatan mandi mereka. Tentu itu membuat ku benar-benar bingung. 

Dasar otak laki-laki, aku yang tidak dihiraukan oleh para wanita yang sedang mandi di sana, semakin melangkahkan diri untuk masuk ke dalam ruangan. Hingga terdapat ruangan lebih besar namun tidak ada dindingnya, di sana terdapat wanita yang sedang berbaring di dalam sebuah bak. Aku melihatnya sambil meneguk liur. Dia hanya melihat ke arahku dengan wajah datar lalu melanjutkan kegiatan mandinya seperti tidak terjadi apa-apa.
Akupun penasaran, apakah aku tidak terlihat. Aku terus memandangi wanita cantik yang sedang mandi di bak itu. Alangkah terkejutnya aku saat dia menyapa, “Abang cari kamar mandi kosong? Letaknya di ujung ruangan ini.”
Entah aku sudah ada di dunia lain, apakah aku sudah ada di surga. Aku benar-benar sulit untuk percaya. Akupun melanjutkan langkah menuju ujung dari ruangan ini. Dari pertama masuk hingga sekarang. Semua wanita yang mandi di sini. Benar-benar cantik. Apakah mereka semua bidadari. 

Akhirnya aku sampai ke ujung ruangan. Di sana aku masuk ke ruangan satu-satunya yang tertutup dan ada pintunya. Apakah ini pintu menuju neraka, atau kembali ke dunia, atau pintu keluar dari surga ini. Tiba-tiba seorang gadis cantik lainnya menyapaku, “Ruang itu gak ada orangnya, kalau mau pakai silahkan...”
Aku melihat ke arahnya. Wajahnya sungguh cantik. Tapi aku tidak sanggup untuk melihat ke arah bawah dari wajahnya, hanya sampai bahunya saja terlihat sepertinya dia tidak mengenakan apapun, dan saat ingin melihat semakin ke bawah tapi tidak bisa seperti diri ini menahannya. Entah kenapa, aku masih punya rasa untuk menghormati wanita, Aku langsung bilang, “Terima kasih.” Dan segera aku masuk ke dalam ruangan itu dan menutup pintunya.

Aku langsung membasuh muka, sambil berkata, “Ini mimpi, pasti mimpi...” Dan aku bisa merasakan ini bukan mimpi, karena wajahku merasakan dinginnya air ini. Aku pun berpikir, “Pasti ada alasan logis dan masuk akal, kenapa wanita-wanita itu bersikap biasa padaku yang merupakan laki-laki satu-satunya di ruangan ini.”

Aku pun berusaha keluar perlahan. Dan di depanku ada wanita berbeda yang sedang bercermin. Aku lalu berdiri di sampingnya sambil menatap cermin. Cerminnya Cuma menampilkan wajah. Ini cukup bagus, jadi kau tidak melihat keseluruhan tubuhnya. Lalu aku bertanya, “Bolehkah aku bertanya?”
Dia sambil merias wajahnya menjawab, “Silahkan bang?”
Aku penasaran, apakah pekerjaan mereka berhubungan dengan alasan sikap biasa padaku, “Maaf pertanyaanku sepertinya tidak sopan, apakah kalian semua pekerjaannya wanita penghibur.“
Dan dia menjawab, “Bukan.”
Tentu aku kaget dan semakin penasaran.  Lalu kembali bertanya, “Terus, kenapa kalian bersikap biasa biasa terhadap laki-laki sepertiku yang memasuki ruangan pribadi kalian?”
Dia lalu melihat ke arahku membuatku semakin gugup. Kemudian dia berkata, “Kamu mengenakan pakaian pemerintah. Dan saat ini pemerintah sedang berjuang untuk memberantas teroris. Bukannya kamu juga begitu?”
Aku baru menyadari pakaian yang aku kenakan. Aku memang langsung memakainya saat mendapatkan surat pemberitahuan diterima kerja sekaligus dikirimi paket berisikan baju seragam pemerintahan. Tapi akukan baru bekerja. Jadi tidak tahu apa-apa. Namun aku hanya mengangguk agar dia tidak curiga dan tetap merasa nyaman dengan kehadiranku.
Dia lalu berkata, “Urusan buang air udah selesaikan bang?, silahkan lanjutkan perjuangan kalian melawan Teroris itu, dan buat kehidupan kami kembali aman seperti sebelumnya.”
Dan aku langsung berucap, “Siap.” Segera aku pergi dari ruangan itu.

Baru saja keluar dari ruangan kamar mandi umum khusus wanita itu. Di hadapanku sudah menunggu para tentara. “Salam bang Aju. Kami sudah menantikanmu. Segeralah menuju kantormu.”
Akupun di jemput para tentara dan langsung diterbangkan menuju gedung pemerintahan. Saat di atas helikopter, aku melihat gedung-gedung yang tadinya terbakar karena ledakan, sekarang terlihat seperti membeku di bagian yang rusak. Tidak ada lagi asap. Tidak salah jika Kota ini dijuluki Kota paling maju di dunia. Orang-orang Pemerintahan adalah orang-orang cerdas, para tentara adalah orang-orang yang kuat, mereka yang tidak termasuk orang kuat dan orang cerdas akan menjadi pekerja. Begitulah kota ini mengelompokan warganya.
Saat tiba di gedung pemerintahan, Walikota langsung menyapaku, “Selamat datang, penemu radar pendeteksi alat peledak. Temuanmu berhasil membuat kampung halamanmu aman. Namun kota ini yang belum menggunakan temuanmu seperti yang kamu lihat sedang kacau. Tapi tidak perlu khawatir semua teroris sudah berhasil kami habisi. Sekarang tugasmu, buat banyak alat radar pendeteksi bom. Kita buat bukan hanya kota dan kampung halamanmu saja tapi seluruh negara ini, aman dari ancaman teroris.”

(Selesai)
Related Posts

Related Posts

Posting Komentar