SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Dia Dekatiku Lagi Agar Aku Tidak Jadi Pelakor

Saat aku jalan bersama Pacarku di wisata siring kota, tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiriku dan langsung menamparku. Seketika itu membuatku terkejut. Wanita itu lalu bicara dengan nada tinggi, “Dasar gadis Pelakor, kamu sengajakan rebut suamiku buat incar hartanya.”

Tentu itu membuatku sangat malu karena lagi di tengah banyak orang. Sedangkan Pacarku Cuma bicara, “Aku bisa jelasin...” tanpa mencegah istrinya mendekatikku kembali dan mendorongku hingga aku terjatuh. Aku hanya pasrah dan tiba-tiba tubuhku seperti disangga oleh seseorang sebelum sampai ke tanah. Aku membuka mata perlahan, awalnya aku berharap pacarku yang melakukannya tapi laki-laki lain yang melakukannya. Dan tidak aku sangka laki-laki lain itu adalah temanku saat sekolah dulu, bernama Jaya.

Aku benar-benar syok. Wanita itu lalu bicara lagi, masih dengan nada tinggi, “Siapa kamu, ikut campur urusan orang saja...”

Dan Jaya menjawab, “Saya teman Lina, Bu. Mungkin Lina tidak tahu pasangannya sudah punya istri.”

Lalu Wanita itu menjawab, “Omong kosong, dia sudah tahu aku istrinya. Kamu punya pasangankan?, bagaimana perasaanmu saat pasanganmu di rebut orang.”

Kemudian Jaya membalas, “Maaf bu, saya belum punya pasangan. Sebaiknya keributan ini disudahi saja. Tidak enak dilihat banyak orang. Saya akan bawa Lina pergi.”

Dibalas oleh Wanita itu, “Bagus, bawa pergi sana jauh-jauh.”

Jaya menghampiriku, memegang tanganku dan mengajakku aku pergi, “Ayo, Lina. Aku antar kamu pulang.”


Saat di tempat pakir, kami bertemu lagi dengan wanita tadi dan suaminya. Langsung di sapa oleh si wanita, “Bilang sama teman cewekmu itu, jangan harap bisa naik motor gede suamiku lagi.” Ucap wanita itu sambil bersiap menaiki motor Mx yang ditunggangi suaminya.

Dan aku pun menyapa Jaya, “Jay, di mana kamu pakir motor metikmu, aku ingin cepat pergi dari sini.”

Lalu Jaya menjawab, “Di rumah, aku ke sini bawa mobilku. Ayo masuk.”

Seketika aku tercengang, saat melihat Jaya masuk ke dalam sebuah mobil mewah yang ada di pakiran itu. Dengan gemetar, aku membuka sisi pintu mobil mewah itu. Terbuka, lalu aku masuk. Menutupnya, dan saat melihat ke arah luar melalui kaca pintu mobil. Aku melihat ekspresi wanita itu bersama suaminya terperangah. Entah kenapa itu membuatku tidak sadar tersenyum sendiri.

Senyumanku berhenti saat Jaya bilang, “Pasang sabuk pengamannya!”

Dan setelah ku pasang. Jaya lalu menjalankan mobil mewahnya.


Untuk pertama kalinya aku manaiki mobil mewah membuat hatiku benar-benar berdetak tidak beraturan. Lalu Jaya bicara, “Rumahmu masih yang lama kan?”

Udah empat tahun lamanya setelah lulus SMA. Baru kali ini aku bertemu Jaya lagi dan dia sepertinya masih ingat rumahku dan aku jawab, “Iya.”

Aku kemudian bertanya, “Sejak kapan kamu punya mobil?”

Dia menjawab, “Baru-baru ini saja. Sejak Perusahaanku mulai maju.”

Entah kenapa aku turut senang mendengarnya, lalu bertanya untuk memastikannya, “Jadi sekarang kamu pengusaha?”

Dia menjawab sambil mengemudi dan sekilas melihat ke arahku, “Bisa dibilang begitu. Pengusaha Properti.”

Aku memang berencana untuk mengincar om-om pengusaha Properti tapi tidak berhasil, dan aku tidak menyangka malah bertemu pengusaha properti yang seumuran denganku dan juga merupakan temanku. Aku terus tersenyum seakan melupakan kejadian buruk yang baru aku alami. Aku mulai merasa nyaman bicara dengannya, “Dan sepertinya kamu sudah jadi pengusaha properti yang sukses?”

Dia menjawab, “Sejak bangunan yang dibangun oleh perusahaanku, semuanya bertahan dan tidak runtuh saat gempa di sulawesi terjadi. Perusahaanku banyak mendapatkan tawaran kerja sama.”

Seakan mudah menyambung pembicaraan dengannya, aku pun asik meneruskan bicara, “Kamu pasti tahu wilayah sulawesi rawan gempa bumi, jadi sengaja membuat bangunan yang anti gempa.”

Lalu dia juga terbawa suasana, “Bicaramu mengingatkanku saat kita kerja kelompok bersama di sekolah dulu.”

Ini juga yang aku tunggu dan langsung aku tanyakan, “Benarkah? Dan dulu saat lulus sekolah kamu pernah bilang menyukaiku. Maaf, aku menolakmu saat itu. Tapi apa sekarang kamu masih menyukaiku?”

Aku merasa yakin dia masih suka aku karena saat di tempat wisata siring kota tadi, dia bilang belum punya pasangan. Dia pasti menungguku, dan aku mencoba lebih memastikannya. Tapi dia hanya diam. Menghentikan mobilnya, lalu berucap, “Kamu ingat, saat aku mengatakan itu. Kamu lagi bersama sahabatmu?”

Dan aku jawab, “Oh, iya. Aku ingat. Sahabatku yang bernama Sinta itu kan.”

Dia melanjutkan bicara, “Sejak kamu menolakku. Aku sangat sedih. Lalu Sinta yang menenangkanku. Dia juga yang selalu menemaniku hingga aku sukses seperti saat ini. Jadi...”

Tentu itu membuatku kaget sekaligus marah, “Jadi kamu mau bilang, sekarang kamu menyukai Sinta. Bukannya kamu bilang, belum punya pasangan saat di wisata siring kota tadi.” Ucapku dengan nada tinggi.

Diapun menjawab, “Aku belum bilang ke Sinta aku menyukainya.”

Ucapnya masih memberikan aku harapan. Namun dia kembali berucap, “Tapi inilah yang aku takutkan saat dulu, kamu menolakku karena aku belum sukses. Dan aku pernah bilang, ‘mungkin jika aku sukses nanti, seleraku bukan kamu lagi.’”

Aku terdiam. Hatiku benar-benar hancur. Dia lalu berucap, “Sudah sampai depan rumahmu, kamu sudah bisa turun.”

(Tamat)

Related Posts

Related Posts

Posting Komentar