SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Dijodohkan Dengan Laki-laki Yang Tidak Diinginkan

Ibuku berucap, "Lina usiamu terus bertambah, kamu harus cepat menikah."

Dan ayahku menyambung pembicaraan, "Benar dikatakan ibumu, kamu itu perempuan. Kalau tidak muda lagi nanti sulit dapat suami."

Lalu aku jawab, "Iya ayah, nanti aku bilang ke pacarku biar cepat dia nikahin aku."

Ayah bicara dengan nada keras, "Tapi kapan, nanti pasti alasannya belum cukup biaya. Nanti kalau dia sudah mapan mungkin akan cari perempuan yang lebih muda dari kamu buat dinikahin."

Aku yang kesal menjawab, "Jangan berpikiran buruk begitu ayah..."

Ibu lalu bilang, "Kami punya laki-laki yang sudah mapan buat kamu, namanya Jaya. Ini demi kebaikanmu juga."

Akupun marah, "Ini hidupku... ibu, ayah. Jangan ikut campur." Aku lalu masuk kamar sambil membanting pintu, 'BRAKKK'


Ayah lalu bicara dari luar kamarku, "Ayah udah kasih nomor kontakmu ke dia, kamu harus membalasnya jika dia menghubungimu. Jangan kecewakan kami sebagai orang tuamu."

Selalu itu andalan ayah dan ibu, 'jangan kecewakan kami, orang tuamu'. Baik aku lakukan. Saat dia menghubungiku, aku hanya membalasnya dengan balasan singkat. Dan dihari berikutnya aku tidak membalas pesannya lagi.


Beberapa hari kemudian, ibu memanggilku, "Lina jangan terus-terusan di kamar. Ini ada Jaya yang ingin menemuimu."

Dengan kesal aku keluar. Aku melihat ke arah Jaya, dia terlihat tidak terlalu tampan. Bahkan jauh lebih tampanan pacarku. 

Di depan orang tuaku dan Jaya aku teriak, "Aku tidak mau dijodohin titik." Kemudian aku masuk kamar.

Terdengar dari dalam kamar Jaya berucap, "Sebaiknya hargai anak tante dan om. Dia tidak mau dijodohkan. Jadi jangan dipaksakan."


Setelah kejadian itu. Aku selalu dibully ayah dan ibu. Ayah berucap, "Kalau kamu gak mau 

Dijodohkan setidaknya jangan jadi beban orang tua. Cari kerja sana..."

Entah Ibu membelaku atau gimana, ibu bilang, "Jangan gitu, Yah. Lina  kan perempuan. Yang harusnya kerja dan cari uang itu pacarnya."

Aku yang tahu pacarku pengangguran karena hampir 24 jam aku terus terusan chat dan telpona dengannya. Dia memang perhatian dan punya banyak waktu untukku. Tapi dia sama  denganku masih beban orang tuanya. Jadi kayaknya aku juga harus cari kerja.

Lalu aku bilang, "Baik Yah, Bu. Aku akan cari kerja. Itu kan yang kalian mau."


Berhari-hari aku cari kerja akhirnya dapat juga panggilan dari salah satu perusahaan ternama. Akupun langsung dipanggil menemui pimpinannya untuk tes wawancara. Dan alangkah terkejutnya aku saat tahu yang duduk di kursi pimpinan adalah Jaya, aku pun langsung berbalik untuk keluar ruangan. Seketika Jaya pun bicara, "Tidak perlu keluar, Lina. Aku bukan pimpinan perusahaan. Ini bukan seperti cerita-cerita fiksi atau sinetron yang kamu dengar."

Aku terdiam. Tiba-tiba pintu terbuka dan masuk seorang gadis cantik. Dan langsung berucap, "Kamu yang mau melamar kerja?"

Aku refleks mengangguk. Dan dia bilang, "Silahkan duduk." Lalu dia langsung menuju ke arah Jaya.

Dia kemudian berucap, "Aku sudah pesankan tiket untuk kita liburan di luar negeri."

Jaya lalu berdiri dan berucap, "Lakukan sesukamu."

Kemudian Jaya menuju Pintu keluar, saat berpapasan denganku, dia berbisik, "Kamu masih mengingat perjodohan itu? Tidak perlu khawatir, aku sudah menemukan penggantimu." Dia lalu keluar.

Aku mendekati dan duduk di hadapan gadis yang sepertinya pimpinan perusahaan ini. Dia lalu berkata, "Namamu Lina?"

Aku melihat papan nama di meja itu, tertulis 'pimpinan: Sinta' lalu aku jawab, "Iya, Nona Sinta. Ini berkas lamaranku.

Sinta mengambil berkas lamaranku. Tanpa membukanya dia langsung meletakannya ke pinggir mejanya, "Kamu diterima."

Membuatku kaget.

Sinta lalu berucap, "Kamu tahu, sistem penerimaan pekerja sekarang. Kepercayaan, dari orang dalam. Jaya sudah cerita banyak ke aku tentangmu. Dan aku bisa menyimpulkan, kamu tidak menyukai Jaya kan?"

Dan aku menjawab sambil melontarkan pertanyaan juga, "Iya karena kami dulu mau dijodohkan. Sedangkan aku sudah punya pacar. Apa kamu juga dijodohkan?"

Sinta tersenyum, "Haha, aku yang mengatakan cinta ke dia. Dan aku kaget karena aku langsung diterima. Sepertinya ini juga berkat kamu menolak Jaya. Jadi aku berterima kasih ke kamu."

Dan langsung aku jawab, "Jaya mungkin menerima kamu karena kamu pimpinan perusahaan. Jadi wajar, cowok lain pasti juga akan melakukan hal sama jika kamu yang nembak dia."

Sinta kembali tertawa, "Hahaha, ini dulu perusahaan dia."

Aku tercengang. Sinta lalu berucap, "Aku juga kaget sama sepertimu, baru diterima sebagai pacarnya, Jaya langsung memberikan salah satu perusahaannya ke aku. Dia memang punya banyak perusahaan."

Aku terdiam. Benar-benar tidak menyangka karena ayah dan Ibu, bahkan Jaya tidak pernah bilang dirinya punya banyak perusahaan. Atau memang salahku karena tidak bertanya pada Jaya saat itu.


Sinta lalu bicara, "Aku lama cari teman curhat, untuk meluapkan semua yang aku pendam. Sekarang aku merasa lega, menemukan kamu yang juga tidak menyukai Jaya. Sama sepertiku."

Aku kembali dibuat kaget, "Kamu juga tidak suka Jaya?"

Dia lalu membalas, "Iya, aku cuma mengincar hartanya. Aku berpikir keras bagaimana cara menaklukan Jaya. Ternyata sangat mudah. Bahkan aku tidak perlu menyusun siasat saat jadi pacarnya untuk merebut salah satu perusahaannya. Aku tidak perlu kerja keras, dia langsung kasih. Huh...rasanya lega setelah bicara semuanya. Aku sangat takut bicara hal ini karena takut bocor ke Jaya. Kamu tahukan orang-orang sekarang sulit dipercaya."

Aku benar-benar tidak menyangka berada di posisi ini. Sinta benar-benar mempercayaiku  hanya karena aku dan dia punya satu hal yang sama. Tidak menyukai Jaya.


Melihat aku terdiam, Sinta terlihat cemas. Dia lalu bilang, "Aku lepas kendali, jadi bicara banyak rahasia ke kamu." Sambil memegangi kepalanya.

Aku langsung jawab, "Ti tidak perlu khawatir. Aku pasti akan merahasiakannya."

Sinta kembali tersenyum, "Bagus, sebagai ucapan terima kasihku, aku akan bantu kamu cepat menikah dengan pacar yang kamu cintai. Urusan biaya, aku yang tanggung."

Aku jadi bingung, harus gimana. Meskipun aku tidak menyukai Jaya. Di sisi lain, aku merasa iri dengan Sinta karena mendapatkan segalanya,  kesempatan emas yang harusnya aku miliki tapi dia rebut, bahkan sepertinya aku tidak rela melihat Jaya dibohongi dengan cinta palsu Sinta.

(Selesai)

Related Posts

Related Posts

Posting Komentar