SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Cerpen Cinta Hubungan Bukan Suami Istri

Aku Lina, perempuan lulusan SMA. Saat aku posting foto seksiku di media sosial dengan maksud menarik laki-laki tampan dan kaya berujung dengan aksi teror. Statusku di medsos, 'sepi karena sendirian, ditinggal pergi kedua orang tua urusan kerja.' Menjadi awal teror dimulai. Padahal maksudku membuat status itu untuk ditemani chating atau ngobrol lewat telpon. Malah rumahku kedatangan orang asing.

Dia menerobos rumahku dan membuatku terpaksa kabur. Di tengah jalan aku bertemu temanku saat SMA dulu, dia laki-laki yang cukup misterius, tapi aku mengenalnya baik karena kami selalu disatukan dalam kelompok belajar. Rumahku tidak aman, aku tidak mau menggangu pekerjaan dan membuat khawatir orang tuaku, jadi aku merahasiakan kejadian ini ke orang tuaku serta minta tolong ke dia untuk menginap di rumahnya lalu dia bersedia.


Saat tahu dia cuma tinggal sendiri awalnya aku merasa ragu tapi karena sudah terlanjur aku teruskan. Aku tinggal di rumahnya sebagai tamu. Dan rumahnya yang jauh dari pemukiman membuat kami aman tinggal bersama meski bukan suami istri. Di sinilah awal cerita hubungan bukan suami istri di mulai yang aku ceritakan di cerpen.id


"Ini kamar mendiang orang tuaku, bisa kamu tempati. Di lemari juga ada pakaian mendiang ibuku, kamu juga boleh pakai. Dan kamarku di sebelah jika kamu butuh sesuatu, panggil saja." Ucap temanku itu.


Pagi harinya aku bangun pagi-pagi sekali, mencoba menyiapkan makanan buat dia. Kebetulan di dapurnya terdapat bahan-bahan makanan jadi aku bisa mengolahnya. Dan tiba-tiba dia memergokiku.

Aku langsung menyapanya, "Maaf, aku memakai dapurmu tanpa izin, ku pikir kamu masih tidur?"

Dia membalasnya, "Tidak apa, aku mengikuti resep dari buku yang baru aku beli. Jadi aku menyiapkan bahan-bahan makanan itu. Ternyata susah, makanan yang aku buat gagal. Jadi kalau kamu mau memanfaatkannya, itu sangat membantu."

Sepertinya dia kesusahan menyiapkan makanannya sendiri setelah kedua orang tuanya meninggal.

Dia kemudian bilang, "Apa ada yang bisa aku bantu? Mungkin aku bisa potong sayur-sayuran atau daging ayamnya!"

Dan aku jawab sambil menunjuk daging ayam, "Kamu bisa potong sesuai ukuran yang kamu suka!"

Aku jadi tidak terbebani karena dia juga ikut membantu.


Kami lalu makan bersama. Dia makan dengan lahap makanan buatanku. Itu membuatku aku senang. Dan agar suasana tidak terlalu kaku, aku mencoba mengajak dia bicara, "Setelah ini apa rencanamu? Mau mendaftar kuliah sepertiku. Karena aku juga lagi menunggu pendaftaran kuliah di kampus Favoritku."

Dan dia menjawab, "Aku masuk kerja sebagai PNS. Saat itu aku iseng mendaftar dengan ijasah SMA ku saat pendaftaran CPNS dibuka. Dan aku malah diterima."

Itu membuatku kaget. Seketika itu membuatnya menjadi laki-laki yang mapan dengan pekerjaan bagusnya.


"Wah itu hebat, boleh aku melihat pakaian dinasmu?" Ucapku penasaran.

Dan dia bilang, "Kamu bisa lihat langsung ke kamarku, masuk saja. Aku akan selesaikan makanku dulu. Jadi kamu bisa duluan."


Aku ke kamarnya dan melihat baju dinas coklatnya tergantung lengkap dengan atribut yang tertempel. Dia bekerja di dinas Kominfo Daerah. Cocok dengan keahlian yang dia miliki. Karena saat sekolah dulu nilai Pelajaran Tekinkom dia memang tertinggi di kelas. Terlihat baju dinasnya kumal. Aku membuka lemarinya untuk mencari sesuatu. Tidak aku temukan aku coba cari di bawah kasur. Dan aku temukan Setrika yang masih dalam kotak dan terlihat berdebu. Apa dia tidak pernah memakainya? Membuatku tersenyum, dasar laki-laki. 


Aku mencoba Setrikanya dan masih berfungsi seperti baru. Aku setrika baju dinasnya hingga rapi. Dan tiba-tiba dia masuk kamarnya.

"Wah, kamu tidak seharusnya repot-repot, tapi sungguh itu sangat membantu, terima kasih!"

Dan aku balas, "Seharusnya aku yang bilang gitu, anggap ini rasa terima kasih ku karena kamu mau menampungku di sini."


Dia pamit kerja dan bilang, "Aku mau pergi kerja dulu, jaga rumah ya!"

Dan aku balas, "Iya tentu."

Saat dia pergi, tanpa sadar aku memanggilnya, "Hey, aku lupa sesuatu?"

Dia berpaling dan bertanya, "Apa itu?"

Aku baru sadar, awalnya aku mau bilang lupa cium tangannya, karena kebiasaan saat orang tua ku pergi kerja aku selalu melakukan itu. Tapi aku ingat dia sebaya denganku dan jika kami melakukannya harusnya kami suami istri tapi kami bukan suami istri. Membuatku panik dan mencoba cari alasan lain.

"Kapan kamu pulang kerja?" Tanyaku ngasal.

Dan dia jawab, "Oh, aku pulang jam 2 siang."

Lalu aku balas, "Aku siapkan makanan, kamu makan siang di rumahkan?"

Dia menjawabnya dengan senyuman, "Biasanya aku makan di luar, tapi karena ada kamu, tentu aku akan makan di rumah."


Entah apa yang terjadi padaku, kegiatan memasak untuk dia seakan menyenangkan. Dan menanti dia pulang kerja menjadi yang ku tunggu-tunggu.

Jam 2 siang lewat, dia pulang kerja. Aku langsung menyambutnya. Dan membawakan tas kerjanya, "Biar aku bawa dan letakan ke kamarmu! Kamu bisa cuci tangan dan langsung ke dapur. Aku akan menyusul."


Kami kembali berhadapan di meja makan. Dan sebelum makan, dia bilang sesuatu.

"Ini uang gajiku!" Ucapnya sambil memberikan sebuah amplop coklat yang cukup tebal ke arahku. Suasana menjadi semakin aneh, karena aku bukan istrinya dan dia bukan suamiku.

Dan dia terlihat menyadari itu, "Aku suka boros, jadi jika ada di tanganmu. Mungkin uang itu bisa lebih awet. Kamu juga bisa atur dan pakai untuk kebutuhanmu dan keperluan kita di rumah ini." Ucapnya sambil menghembuskan nafas panjang.

Aku menerimanya, sambil bilang, "Baik, aku akan menjaga dan memenfaatkanya untuk kepentingan kita." Terus kami saling tertawa.


Saat kami selesai makan. Ketika aku cuci piring dia menghampiriku, "Biar aku ikut bantu."

Aku kembali tersenyum. Ini sama seperti kejadian pagi tadi, aku cuci piring, lalu cukup serahkan dia yang di sampingku, dia yang melanjutkan ngelap dan mengeringkan serta meletakkannya di rak piring.


Malam harinya, kami tidak makan di rumah. Dia mengajakku jalan-jalan ke tempat pemberlanjaan sekaligus makan di luar. Aku memilih barang-barang yang dibeli dan menaruhnya di kereta belanja, dan dia yang mendorongnya. Sekilas kami terlihat seperti suami istri padahal bukan.


Dia lalu tanya, "Kapan orang tuamu pulang?"

Penasaran aku tanya balik, "Tiga hari lagi, memang ada apa?"

Dia jawab, "Ada hal serius yang ingin aku katakan pada orang tuamu, selanjutnya setelah keputusanmu apa?"

Aku seperti menerka apa maksudnya dan aku tanya, "Apa itu teka-teki buatku? Mengingatkanku saat kita sekolah dulu, kamu suka kasih aku teka-teki."

Dia jawab, "Iya karena aku tahu kamu menyukai teka-teki, tapi kali ini cuma kamu seorang yang bisa jawab."

Aku membalasnya dengan senyuman penuh arti.


(Selesai)

Related Posts

Related Posts

Posting Komentar