SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Pengertian Cerpen: Menurut Ahli, Sejarah, Ciri-ciri, Struktur, Unsur dan Contohnya

Arti Cerpen Singkat

Cerpen singkatan dari cerita pendek merupakan cerita yang habis dibaca sekitar sepuluh menit atau setengah jam. Untuk jumlah katanya sekitar 500-10.000 kata. Oleh karena itu, cerita pendek sering diungkapkan sebagai cerita yang dapat dibaca dalam sekali duduk. Cerita pendek pada umumnya bertema sederhana, jumlah tokohnya pun terbatas. Untuk jalan ceritanya pun sederhana dan latarnya meliputi ruang lingkup yang terbatas.

Arti Cerpen Lengkap

Pengertian Cerpen adalah jenis karya sastra yang berbentuk prosa naratif fiktif/ fiksi dimana isinya menceritakan/ menggambarkan kisah suatu tokoh beserta segala konflik dan penyelesaiannya, yang ditulis secara ringkas dan padat.
Pada umumnya, isi cerita pendek berpusat pada satu tokoh dan situasi tertentu dimana ada puncak masalah (klimaks) dan penyelesaiannya. Selain itu, di dalam cerita pendek atau cerpen terdapat kurang dari 10.000 kata saja, sehingga cenderung singkat dan padat.

Pengertian Cerpen Menurut Para Ahli

Agar lebih memahami apa arti cerpen, kita dapat merujuk pendapat para ahli. Berikut ini adalah pengertian cerpen menurut para ahli:

1. Sumardjo dan Saini

Menurut Sumardjo dan Saini, pengertian cerpen adalah cerita fiktif atau tidak benar-benar terjadi akan tetapi bisa saja terjadi kapanpun dan dimanapun yang mana ceritanya relatif pendek.

2. Nugroho Notosusanto

Menurut Nugroho Notosusanto, pengertian cerpen adalah cerita yang panjangnya berkisar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi, dimana isinya terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.

3. H. B. Jassin

Menurut B. Jassin, arti cerpen adalah sebuah cerita singkat yang harus memiliki bagian terpenting yakni perkenalan, pertikaian dan penyelesaian.

4. Saini

Menurut Saini, arti cerpen adalah cerita pendek fiksi atau tidak benar-benar terjadi, tetapi bisa terjadi kapan saja dan dimana saja dimana cerita ini relatif singkat.

5. A. Bakar Hamid

Menurut A. Bakar Hamid, cerpen atau cerita pendek seharusnya dilihat dari kuantitas kata yang digunakan, yaitu antara 500 hingga 20.000 kata, terdapat plot, terdapat satu karakter, dan adanya kesan.

Makna Cerpen

Cepen dengan judul Cinta Sesaat ini bermakna bahwa dalam menjalin suatu persahabatan jangan di campuri dengan rasa cinta yang sesaat karena dapat menyebabkan rasa sakit dalam hati yang menyebabkan rusaknya persahabtan dan dalam mengambil keputusan harus di pertimbangkan dahulu baik buruknya untuk ke depannya.

Sejarah Cerpen

Cerita pendek bermula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer. Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan.

Fabel, yang umumnya berupa cerita rakyat dengan pesan-pesan moral di dalamnya, konon dianggap oleh sejarahwan Yunani Herodotussebagai hasil temuan seorang budak Yunani yang bernama Aesop pada abad ke-6 SM (meskipun ada kisah-kisah lain yang berasal dari bangsa-bangsa lain yang dianggap berasal dari Aesop). Fabel-fabel kuno ini kini dikenal sebagai Fabel Aesop. Akan tetapi ada pula yang memberikan definisi lain terkait istilah Fabel. Fabel, dalam khazanah Sastra Indonesia seringkali, diartikan sebagai cerita tentang binatang sebagai pemeran(tokoh) utama. Cerita fabel yang populer misalnya Kisah Si Kancil, dan sebagainya.

Selanjutnya, jenis cerita berkembang meliputi sage, mite, dan legenda. Sage merupakan cerita kepahlawanan. Misalnya Joko Dolog. Mite atau Mitos lebih mengarah pada cerita yang terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat tentang sesuatu. Contohnya Nyi Roro Kidul. Sedangkan legenda mengandung pengertian sebagai sebuah cerita mengenai asal usul terjadinya suatu tempat. Contoh Banyuwangi.

Bentuk kuno lainnya dari cerita pendek, yakni anekdot, populer pada masa Kekaisaran Romawi. Anekdot berfungsi seperti perumpamaan, sebuah cerita realistis yang singkat, yang mencakup satu pesan atau tujuan. Banyak dari anekdot Romawi yang bertahan belakangan dikumpulkan dalam Gesta Romanorum pada abad ke-13 atau 14. Anekdot tetap populer di Eropa hingga abad ke-18, ketika surat-surat anekdot berisi fiksi karya Sir Roger de Coverley diterbitkan.

Di Eropa, tradisi bercerita lisan mulai berkembang menjadi cerita-cerita tertulis pada awal abad ke-14, terutama sekali dengan terbitnya karyaGeoffrey Chaucer Canterbury Tales dan karya Giovanni Boccaccio Decameron. Kedua buku ini disusun dari cerita-cerita pendek yang terpisah (yang merentang dari anekdot lucu ke fiksi sastra yang dikarang dengan baik), yang ditempatkan di dalam cerita naratif yang lebih besar (sebuah cerita kerangka), meskipun perangkat cerita kerangka tidak diadopsi oleh semua penulis. Pada akhir abad ke-16, sebagian dari cerita-cerita pendek yang paling populer di Eropa adalah “novella” kelam yang tragis karya Matteo Bandello (khususnya dalam terjemahan Perancisnya). Pada masa Renaisan, istilah novella digunakan untuk merujuk pada cerita-cerita pendek.

Pada pertengahan abad ke-17 di Perancis terjadi perkembangan novel pendek yang diperhalus, “nouvelle”, oleh pengarang-pengarang sepertiMadame de Lafayette. Pada 1690-an, dongeng-dongeng tradisional mulai diterbitkan (salah satu dari kumpulan yang paling terkenal adalah karya Charles Perrault). Munculnya terjemahan modern pertama Seribu Satu Malam karya Antoine Galland (dari 1704; terjemahan lainnya muncul pada 1710–12) menimbulkan pengaruh yang hebat terhadap cerita-cerita pendek Eropa karya Voltaire, Diderot dan lain-lainnya pada abad ke-18.

Cerita-Cerita Pendek Modern

Cerita-cerita pendek modern muncul sebagai genrenya sendiri pada awal abad ke-19. Contoh-contoh awal dari kumpulan cerita pendek termasuk Dongeng-dongeng Grimm Bersaudara (1824–1826), Evenings on a Farm Near Dikanka (1831-1832) karya Nikolai Gogol, Tales of the Grotesque and Arabesque (1836), karya Edgar Allan Poe dan Twice Told Tales (1842) karya Nathaniel Hawthorne. Pada akhir abad ke-19, pertumbuhan majalah dan jurnal melahirkan permintaan pasar yang kuat akan fiksi pendek antara 3.000 hingga 15.000 kata panjangnya. Di antara cerita-cerita pendek terkenal yang muncul pada periode ini adalah “Kamar No. 6” karya Anton Chekhov.

Pada paruhan pertama abad ke-20, sejumlah majalah terkemuka, seperti The Atlantic Monthly, Scribner’s, dan The Saturday Evening Post, semuanya menerbitkan cerita pendek dalam setiap terbitannya. Permintaan akan cerita-cerita pendek yang bermutu begitu besar, dan bayaran untuk cerita-cerita itu begitu tinggi, sehingga F. Scott Fitzgerald berulang-ulang menulis cerita pendek untuk melunasi berbagai utangnya.

Permintaan akan cerita-cerita pendek oleh majalah mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-20, ketika pada 1952 majalah Lifemenerbitkan long cerita pendek Ernest Hemingway yang panjang (atau novella) Lelaki Tua dan Laut. Terbitan yang memuat cerita ini laku 5.300.000 eksemplar hanya dalam dua hari.

Sejak itu, jumlah majalah komersial yang menerbitkan cerita-cerita pendek telah berkurang, meskipun beberapa majalah terkenal seperti The New Yorker terus memuatnya. Majalah sastra juga memberikan tempat kepada cerita-cerita pendek. Selain itu, cerita-cerita pendek belakangan ini telah menemukan napas baru lewat penerbitan online. Cerita pendek dapat ditemukan dalam majalah online, dalam kumpulan-kumpulan yang diorganisir menurut pengarangnya ataupun temanya, dan dalam blog.

Unsur Dan Ciri Khas

Cerita pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.

Dalam bentuk-bentuk fiksi yang lebih panjang, ceritanya cenderung memuat unsur-unsur inti tertentu dari struktur dramatis: eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya), komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik dan tokoh utama); komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik); aksi yang meningkat, krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian (bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan moralnya.

Karena pendek, cerita-cerita pendek dapat memuat pola ini atau mungkin pula tidak. Sebagai contoh, cerita-cerita pendek modern hanya sesekali mengandung eksposisi. Yang lebih umum adalah awal yang mendadak, dengan cerita yang dimulai di tengah aksi.

Seperti dalam cerita-cerita yang lebih panjang, plot dari cerita pendek juga mengandung klimaks, atau titik balik. Namun demikian, akhir dari banyak cerita pendek biasanya mendadak dan terbuka dan dapat mengandung (atau dapat pula tidak) pesan moral atau pelajaran praktis. Seperti banyak bentuk seni manapun, ciri khas dari sebuath cerita pendek berbeda-beda menurut pengarangnya. Cerpen juga memiliki cerpen.

Ciri-Ciri Cerpen

Sama dengan halnya seperti karya tulis lainnya. cerpen juga memiliki ciri-ciri khusus yang akan berfungsi sebagai pembeda antara teks yang lainnya.


  1. Ceritanya jauh lebih pendek dibanding dengan novel.
  2. Akan Memiliki jumlah kata kurang dari 10.000 kata atau tidak lebih dari 10 lembar.
  3. Cerita yang akan diceritakan juga biasanya akan bersumber dari kehidupan sehari-hari.
  4. Dalam cerpen hanya akan menceritakan inti sari dari cerita tersebut bukan kisah detail para tokohnya
  5. Dalam cerpen tokoh akan dihadapkan pada suatu akan permasalahan maupun konflik yang pada akhirnya akan menemukan beberapa penyelesaian dari konflik tersebut.
  6. Pemakaian kata yang sederhana sehingga mudah dipahami pembaca.
  7. Pembaca dapat ikut merasakan langsung kisah yang akan diceritakan karena kesan yang ditinggalkan cerpen sangat mendalam.
  8. Mempunyai alur cerita lurus ataupun tunggal.
  9. Pendalam tokohnya sangat sederhana.
  10. Biasanya hanya menceritakan 1 kejadian atau peristiwa saja.


Struktur Cerpen

Di dalam Cerpen terdapat 6 elemen ang sangat penting yang akan membangun teks cerita pendek tersebut sehingga membentuk suatu cerita yang utuh. Berikut ini adalah struktur cerpen tersebut yakni:

1. Abstrak

Abstrak merupakan sebuah ringkasan atau inti dari cerpen dan merupakan gambaran pada awal suatu cerita. Unsur abstrak sifatnya opsional, dengan kata lain yaitu suatu cerpen boleh saja tidak menggunakan abstrak.

2. Orientasi

Orientasi adalah hal-hal yang akan berhubungan dengan waktu, suasana, ataupun tempat yang ada di dalam cerita pendek.

3. Komplikasi

Komplikasi merupakan urutan berbagai kejadian yang dihubungkan berdasarkan sebab atau akibat. Kita juga dapat melihat watak maupun karakter suatu tokoh dalam cerpen pada struktur ini.

4. Evaluasi

Evaluasi ialah struktur konflik yang akan terjadi dan mengarah pada klimaks, serta mulai akan menemukan solusi atau penyelesaian atas konflik tersebut.

5. Resolusi

Pada bagian ini si pembuat cerpen akan menjelaskan solusi maupun penyelesaian atas masalah yang dialami oleh tokoh di dalam cerpen.

6. Koda

Koda adalah nilai moral maupun pelajaran yang bisa didapatkan oleh pembaca/penulis cerpen.

Unsur-Unsur Cerpen

Dalam cerpen dibangun oleh berbagai macam unsur, unsur dalam cerpen dibagi menjadi 2 yaitu Unsur Instrinsik dan Ekstrinsik, nah untuk lebih jelasnya dari masing-masing unsur tersebut simak ulasannya berikut ini.

Unsur Instrinsik

Unsur Instrinsik ialah unsur pembangun cerita yang berasal dari dalam cerita itu sendiri, berikut macam-macam unsur Instrinsik.

1. Tema

Tema yakni titik tolak pengarang dalam menyusun sebuah cerita, pengarang menentukan tema sebelum mengarang pembaca menemukan tema setelah membaca seluruh cerita.

2. Alur/Plot

Alur/Plot merupakan rangkaian kejadian peristiwa yang disusun berdasarkan hukum sebab akibat. Jenis alur : alur maju, alur mundur dan alur campuran. Untuk tahap alur yaitu :

  • Pengenalan situasi cerita/permulaan/exposition.
  • Pengungkap peristiwa ( complication ).
  • Menuju pada adanya konflik ( rising action ).
  • Tahap perumitan.
  • Tahap puncak konflik ( klimaks ).
  • Tahap peleraian.
  • Tahap penyelesaian.

3. Tokoh


Jenis-jenis tokoh :


  • Tokoh protagonis : mendukung cerita ( tokoh utama/baik ).
  • Tokoh antagonis : penentang cerita ( tokoh musuh/jahat ).
  • Tokoh tritagonis : tokoh pembantu, baik protagonis/antagonis.

Penokohan

Penokohan ialah, proses pengarang dalam menampilkan tokoh. Cara pengarang menampilkan perwatakan tokoh :


  • Ciri-ciri fisik tokoh
  • Percakapan antar pelaku
  • Lingkungan sosial
  • Gambar tempat tinggal tokoh
  • Pemaparan sifat tokoh
  • Kedudukan Tokoh


Orang pertama ; pelaku utama, pengarang sebagai pengamat tidak langsung, pengarang sebagai pengamat langsung.
Orang ketiga ; sudut pandang serba tahu, sudut pandang terarah.

4. Latar

  • Latar tempat
  • Latar waktu
  • Latar suasana


5. Sudut Pandang ( Point Of View )

Ialah, cara pengarang menceritakan tokoh, ada 3 sudut pandang yaitu :

  • Sudut pandang orang pertama yakni aku atau saya.
  • Sudut pandang orang ketiga yakni ia, dia atau nama tokohnya.
  • Sudut pandang campuran yakni pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya.

6. Amanat

Ialah, pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca, baik tersurat maupun tersirat amanat disembunyikan pengarangnya dalam keseluruhan isi cerita.


Unsur Ekstrinsik

Unsur Ekstrinsik ialah unsur yang tidak secara langsung melekat dan membangun cerita yang berasal dari luar, unsur ekstrinsik antara lain :


  1. Latar belakang kehidupan pengarang
  2. Kondisi zaman saat karya sastra itu diciptakan
  3. Latar belakang kehidupan pengarang meliputi : tingkat pendidikan, profesi/pekerjaan, status sosial ekonomi, pandangan politik, kepercayaan/agama/faham yang dianut pengarang dan lain-lain. Dan keadaan zaman pada saat karya sastra diciptakan merujuk pada situasi politik dan tingkat peradaban masyarakat saat karya sastra itu diciptakan ( disarikan dari berbagai sumber).


Fungsi Sastra Dalam Cerpen

Beberapa fungsi sastra di dalam cerpen tersebut adalah:


  1. Fungsi Rekreatif, yaitu fungsi cerpen yang dapat membuat pembaca merasa senang, gembira, dan terhibur.
  2. Fungsi Didaktif, yaitu fungsi cerpen yang dapat mendidik dan mengarahkan pembaca melalui nilai-nilai kebenaran di dalam cerpen.
  3. Fungsi Estetis, yaitu fungsi cerpen yang memberikan keindahan kepada pembacanya.
  4. Fungsi Moralitas, yaitu fungsi cerpen yang memberikan nilai moral sehingga pembaca mengerti moral yang baik dan tidak baik untuk dirinya.
  5. Fungsi Religiusitas, yaitu fungsi cerpen yang mengandung ajaran agama dan menjadi teladan bagi pembacanya.


Contoh Cerpen

Berikut daftar cerpen paling terbaru yang ada di sini:
Related Posts

Related Posts

Post a Comment