SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Benci Cerai (Part 1)

"Pilih ceraikan istri dan dibenci Tuhan atau pertahankan istri dan tidak dibenci Tuhan." Itu yang aku selalu tanamkan dalam diri ketika muncul pikiran untuk menceraikan istriku.
Aku sadar, ini salahku sendiri. Mengajaknya menikah saat dia marah, padahal aku tidak mengenalnya dan tanpa melalui pacaran dulu. Ketika itu dia marah seorang diri, karena diputusin pacarnya yang sudah lama pacaran lalu kemudian pacarnya itu menikah lagi. Dia jelaskan itu semua ke aku, saat mau bunuh diri dan aku tidak sengaja lewat dan melihatnya, lalu mencoba menenangkannya. Meskipun aku sudah mengucapkan, “bunuh diri akan memasukanmu langsung ke Neraka”, tapi dia tidak peduli.
Ketika dia mau terjun ke bawah jembatan, kata-kataku terlontar, “Aku akan nikahi kamu…” seharusnya aku teriak, jangan. Tapi kata-kata pertamaku berhasil membuat dia tidak melakukan bunuh diri dan menoleh ke arahku, “Kamu serius?” Tanyanya.
Dan aku yang sudah terlanjur mengucapkan kata-kata itu kemudian meneruskannya, “Iya aku serius, apapun keadaanmu, aku terima.”
Dia turun dari pagar jembatan, menghampiriku dan memelukku lalu mengangis sejadi-jadinya. Beberapa hari kemudian aku resmi menikah dengannya.

Sekarang, hidup rumah tanggaku selalu dipenuhi konflik. Setiap dia tidak bisa diandalkan jadi istri saat itu juga muncul pikiran untuk menceraikannya. Tapi aku selalu mengingat kata-kata diawal.
Seperti kejadian pagi ini, “Kamu itu istriku, seharusnya bisa masakan aku makanan! Paling tidak meja makan kita jangan kosong.”
Dan dia balas membentak, “Aku sudah bilangkan, aku tidak bisa masak. Kalau pun aku paksakan, masakanku pasti tidak enak.”
Aku kesal dan balas, “Masak apa saja yang kamu bisa, enak atau tidak enak, itu tidak masalah, yang penting ada buat dimakan pagi ini.”
Dia dengan emosinya masuk ke dapur.
Memasak entah apa itu dan kembali lagi dan menghidangkannya ke aku.
Dia dengan wajah cemberutnya, “Telur dan mie goreng.”
Aku melihat telur gorengnya, “Ini telur kuah, kok minyak gorengnya masih ada di mangkuk sama tuh telur.”
Dan dia tanya, “Emang harus dipisah. Itu bikin ribet.”
Aku geleng-geleng kepala, “Ya udah, aku aja ngeluarin telur dari minyaknya.”
Lalu bilang, ”Aku akan tetap makan masakanmu itu hanya karena kamu itu istriku.” Kemudian aku makan. Ini telur goreng atau ceplok sama sekali gak ada rasanya. Aku tetap habiskan untuk hargai dia yang sudah berusaha.

Saat selesai makan dan mau pergi kerja, aku tinggalin sesuatu ke dia, satu lembar uang merah, “Buat beli bahan makanan.” Satu lembar lagi uang merah, “Buat keperluanmu.” Dan satu lembar lagi uang merah, “Ini buat tabungan rumah tangga kita.”
Dan dia tanya, “Besok masih ada lagi kan?”
Dan aku jawab sambil bergegas pergi, “Tiga hari lagi baru ada, itupun jika aku masih sehat dengan makanan yang kamu berikan itu.”
Dia langsung memegang tanganku ketika di luar pintu dan bilang, “Masa istrimu gak cium tangan suaminya.”
Aku kira dia lakuin itu karena uang. Eh dia malah bilang sambil berbisik, “Aku gak mau kalah romantis sama keluarga tetangga sebelah. Jadi kamu nurut saja.”
Aku kasih tanganku untuk dia cium kemudian ku ucap dengan pelan, “Seterahmu.”
Entah sampai kapan keluarga tidak normal ini bertahan. Akankah hari esok masih ada untuk rumah tangga yang rawan runtuh ini…

(Bersambung)
Related Posts

Related Posts

Post a Comment