SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Cerpen Keluarga Yang Harmonis

Cerita Keluarga Harmonis ini adalah kisah keluargaku sendiri. Kata orang keluargaku adalah impian banyak orang. Aku suka cerpen jadi aku akan ceritakan tentang keluargaku melalui cerita pendek yang tidak akan menggunakan waktu lama untuk membacanya dan aku memberinya judul cerpen keluarga harmonis.

Aku hanya punya satu saudara yaitu kakak laki-lakiku dan aku anak perempuan yang selalu dilindungi oleh kakakku. Kata temanku, "kakakku cuma tertarik pada kecantikan dan tubuh mulusku. Jadi dia memperhatikanmu." Oleh karena itu aku ingin membuktikannya sendiri.


Ketika aku duduk sendiri di teras rumah dengan mengenakan rok pendek. Kakak melihat ke arahku. Matanya yang penuh nafsu mengarah ke arah paha mulusku. Dan aku bilang, "Jika kakak mau, silahkan kakak sentuh."
Kakak lalu mendekatiku dan mengarahkan tangannya ke tubuhku.

Dia meraih tanganku. Membuatku berdiri lalu duduk di kursi yang ku duduki tadi dan bilang, "Kakak sudah tidak tahan untuk duduk santai sambil menikmati indahnya senja. Kebetulan hari ini langitnya cerah."

Aku tersenyum. Sudah ku duga. Kakakku adalah laki-laki yang menghormati perempuan apalagi adiknya sendiri.

Kakak juga tidak akan membiarkanku sendiri saat di luar rumah apapun keadaannya. Pernah suatu ketika kakak sedang asik main sepak bola bersama temannya di halaman rumah.

Aku yang mau pergi les bilang, "Kak, aku mau ke sekolah. Ada les." Saat itu aku duduk di kelas tiga SMP sedangkan kakakku sudah kelas 2 SMA.

Awalnya kakak tidak mempedulikanku, "Iya, nanti kakak bilang ke Ibu dan Ayah jika tiba di rumah. Kebetulan Ayah menemani Ibu pergi ke pasar setelah pulang kerja jadi orang tua kami tidak ada di rumah.

Dan ketika aku keluar pagar. Kakak menghampiriku, "Mana teman cewekmu?"
Aku jawab, "Mereka gak ikut les, jadi aku pergi sendiri."
Dan teman kakakku teriak, "Ayo sini main..."
Dan kakak jawab, "Aku antar adikku dulu ke sekolah."
Aku jawab saja, "Gak usah kak."
Dan kakak tetap mengantarku. Kakak memang tidak mengantarku dengan mobil ataupun motor. Selain kakak belum cukup umur juga tidak diperbolehkan oleh Ayah dan Ibu. Tapi aku tetap senang, ditemani kakak selama perjalanan ke sekolah.

Apalagi, aku selalu tidak dibuat bosan oleh kakakku yang suka cerita apa saja. Seperti tentang Keluarga kami dulu, "Kamu tahu dik, dulu keluarga kita tinggal digubuk. Jangankan halaman, teras saja gak punya. Itu sebelum kamu lahir. Kakak juga saat itu masih Bayi. Tapi saat kamu lahir dan masih Bayi, kakak yang sudah kanak-kanak diceritain oleh Ayah."

Tentunya aku penasaran, "Ceritain juga ke aku kak..."
Sambil jalan kakak cerita, "Sebelum menikah, Ibu duduk di rumah makan diajak teman-temannya. Semua teman-temannya bersama pacarnya masing-masing dan cuma ibu sendiri. Ketika itu ayah mendekati Ibu dan temannya bilang, 'wah teman kita bakalan punya pacar nih'. Saat Ayah duduk di samping Ibu. Ibu cuma diam sambil menunduk malu. Semua terdiam ketika Ayah bilang, maukah kamu menikah denganku. Tapi ibu tidak menjawab..."

Kakak berhenti becerita saat kami sampai di depan sekolahku. Dan aku yang penasaran bilang, "Masih belum waktunya masuk les. Lanjutin ceritanya kak..."
Kemudian kakak lanjut bercerita, "...Ibu terlihat bingung. Sampai ada teman Ayah yang manggil Ayah, 'Ayo Jaya, cepat waktu pelantikan PNS sudah mau dimulai'. Lalu ayah pergi. Dan Ibu kemudian memanggil ayah, 'Jaya!' Seketika ayah berhenti dan melihat ke arah ibu. Lalu ibu berucap, 'Namaku Ziah. Aku bersedia menikah denganmu.' Ayah dan ibu tersenyum bersama."

Lonceng tanda les dimulai dan kakak berhenti bercerita sambil bilang, "Itu lonceng bunyi. Ayo masuk."
Aku ingin tahu lanjutan awal cerita keluarga harmonis ini, "Kasih, aku kesimpulannya ceritanya kak. Baru aku masuk."

Dan kakak melanjutkan cerita dengan ringkas, "Ibu menunggu depan kantor Bupati, dan mereka bertemu kembali setelah ayah selesai dilantik jadi CPNS. Lalu mereka langsung ke orang tua Ibu dan besoknya nikah."

Aku tersenyum bahagia. Jika jodoh belum ada. Ketika waktunya tiba saat pertemuan pertama maka saat itu juga bisa jadi pasangan sehidup dan semati.

Hatiku yang senang membuatku belajar dengan semangat bahkan pelajaran seakan sangat mudah masuk ke otakku dan dapatku pahami.

Saat pulang les. Kakak tidak menjemputku lagi. Tapi itu tidak membuatku sedih. Karena di depan pagar sudah ada Ayah dan Ibu yang siap mengantarkanku pulang dengan Mobil yang baru Ayah beli beberapa hari yang lalu.

Di dalam mobil aku bilang, "Aku barusan diceritain kakak tentang Ayah dan Ibu ketika bertemu pertama kali dulu..."
Ibu terlihat tersenyum seperti mengenang masa lalu kembali. Dan kemudian bicara, "Saat itu usia ibu sudah 25 tahun dan ingin menikah tapi gak ada calonnya. Kebetulan Ayahmu muncul."
Dan Ayah juga bicara, "Ayah juga bingung. Karena diterima jadi PNS tapi di tempat terpencil. Sedangkan Ayah tidak bisa masak. Jadi perlu teman hidup yang bisa masakin Ayah makanan. Dan Ibumu ada saat itu."

Sesampainya di rumah. Kami saling melengkapi. Ayah angkat belanjaan, dan ibu yang memasak. Kakak yang sudah di rumah menyiapkan piring dan aku menyiapkan minuman.

Saat makan, setiap makan selesai dikunyah dan ditelan selalu terjadi percakapan kecil. Seperti yang dilakukan kakak, "Ayah, Ibu. Tadi saat antar Aya ke tempat Les, cuma Aya loh yang datang. Bakalan sepi nantinya acara perpisahan, jika Aya yang sendiri yang lulus."
Kadang cuma ibu yang tertawa setiap kakak berusaha ngelawak.

Di keluarga kami tidak pernah ada yang marah. Bahkan saat aku yang suka ngadu ke Ibu dan Ayah, "Ibu, Ayah. Masa kak Yaza anggurin temannya. Padahal temannya udah bela-belain datang ke sini buat main."
Dan kakak membalasnya, "Kan anggur mahal." Dengan lawakan garingnya.

Lalu beberapa hari kemudian. Ketika kakak mengaku kesalahannya ke Ayah, "Maaf Ayah. Kaca depan rumah pecah kena bola."
Dan Ayah bilang, "Nanti besok kita benerin dan beli kaca baru dengan potongan uang jajanmu." Ucap ayah dengan nada biasa. Bukan bentakan tapi hukuman. Itu yang membuat kami berani bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan tidak sengaja sekaligus membuat kami takut melakukan kesalahan yang disengaja.

Aktifitas keluarga kami juga sangat menyenangkan. Selalu ada kegiatan yang membuat rumah kami tidak sunyi sekaligus menyehatkan kami. Diantaranya ketika hari minggu tiba, pagi-pagi kakak nyapu rumah dan aku ngepel. Ibu nyuci pakaian dan ayah jemur pakaiannya.

Setelah selesai melakukan aktifitas di rumah Ayah selalu ngajak kami ke tempat-tempat berbeda di sekitar tempat kami tinggal. Jika minggu lalu ke wisata hutan, minggu ini ke pantai. Kami juga pernah mencoba setiap rumah makan di sini, satu persatu, kata Ayah, "Anggap saja kita juri masak keliling" Kurang kerjaan banget kan, tapi aku suka. Gak membosankan. Kadang juga ke rumah keluarga, gak lupa bawa oleh-oleh.

Sebenarnya banyak yang ingin aku ceritain. Tapi bukan jadi cerpen lagi malah jadi buku harianku nantinya. Jadi aku kasih ringkasannya saja.

Kesimpulan Cerpen Keluarga yang Harmonis


Jika kepercayaan, saling mengerti, saling melengkapi, peduli ada dalam keluarga maka keluarga tersebut bisa menjadi keluarga yang harmonis. Seperti cerita pendek atau cerpen tentang keluargaku ini. Dan ini berdasarkan dari kata-kata orang. Banyak kata dan pertanyaan orang lainnya tentang keluarga kami diantaranya.

Tag: Keluarga harmonis, rahasia keluarga harmonis, seperti apa keluarga harmonis, cerita keluarga harmonis, kisah keluarga harmonis, cerpen keluarga harmonis.

PERHATIAN

Tidak ada jaminan jika anda memaksakan keluarga anda seperti yang dilakukan keluarga saya untuk membuat keluarga jadi harmonis. Karena cerpen keluarga harmonis ini hanyalah kisah yang saya bagikan. Tanpa paksaan tapi hal-hal yang membuat nyaman anggota keluargalah seperti perhatian yang diberikan kepada keluarga dapat membuat keluarga jadi harmonis.
Related Posts

Related Posts

Post a Comment