SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Penolong Saat Tidak Bisa Minta Tolong

"Pakailah baju hitam agak terbuka dan diamlah di taman!" Itulah perintah dari orang tidak dikenal yang aku turuti.

Aku gadis yang tidak beruntung. Dilahirkan dikeluarga yang hancur. Orang tua cerai dan aku ikut ibu bersama ayah tiri. Ibu selalu sibuk bekerja. Membuat ayah tiriku mempunyai kesempatan banyak untuk melecehkanku. Ancaman akan membunuh aku dan ibu membuatku takut dan terpaksa diam saat dirinya menikmatiku sedangkanku kesakitan.

Inginku melawan dan menghabisi ayah tiriku, tapi aku takut dipenjara. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah situs di internet. Menawarkan bantuan untuk orang-orang malang sepertiku. Ku pikir, situs itu hanya lelucon, aku cuma sekedar curhat di sana dengan identitas palsu. Saat aku kunjungi kembali, situs itu memberikan balasan yang hanya bisa dilihat olehku. Isi pesannya mengatakan, pakailah baju hitam agak terbuka di taman jam tiga siang, di sana pantaulah situs ini. Aku akan memperhatikanmu, mengikutimu dan menemukan ayah tirimu dan menghabisinya untukmu.

Aku mengikutinya. Besoknya aku lakukan. Aku duduk di taman dengan mengenakan baju merah, dan sambil menggunakan Hp untuk memantau situs kemaren. Balasan pesan pribadi kembali masuk, mengatakan ada tiga orang yang berbaju hitam, peganglah kepalamu untuk aku memastikan itu kamu. Aku mencoba menggaruk kepalaku agak lama hingga mendapatkan balasan kembali. Aku melihatmu, pulanglah. Aku segera pulang.

Di rumah saat aku melihat ayah tiriku pulang. Aku mencoba keluar dan bilang, Ayah aku ingin pergi ke tempat teman, ada tugas kelompok dari sekolah. Dan di depan pagar, Ayah tiriku menarik paksa diriku untuk kembali ke dalam rumah.

Aku kesal. Aku terlalu berharap dengan situs sialan itu. Aku harus mengalami hal buruk ini lagi.

Keesokan harinya, aku ingin memaki-maki situs tersebut. Dan aku kaget saat situs itu kembali membalas pesanku secara pribadi. Pria yang telah menarikmu di pagar kemaren, aku pastikan tewas.

Tiba-tiba ibu datang, dan menangis sambil memelukku, "Ayahmu, dia keracunan di kantin kantornya. Ayo kita jenguk di rumah sakit."
Dan aku bertanya untuk memastikan, "Ayah tiriku, bu..."
Plakkk, tamparan keras dari ibu berbekas di pipiku, "Jangan beda-bedakan ayahmu, sekarang dia hidup bersama kita jadi terimalah. Cepat kita jenguk dia..."
Aku meneteskan air mata, bukan karena sedih tapi ku menangis bahagia.

Siapapun dirimu, dibalik situs tersebut, terima kasih telah membuat hidupku cerah kembali.

(Selesai)
Related Posts

Related Posts

Post a Comment