SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Mengampuninya Urusan Tuhan Tapi Mengirimnya Ke Tuhan Adalah Urusanku

Seorang pemuda berpakaian lusuh datang ke restoran mewah. Saat itu satpam tidak ada di tempat sehingga pemuda itu bisa masuk dan menuju meja kasir. Belum sempat pemuda itu berkata. Karyawati restoran itu langsung berucap, "Maaf, di sini tidak memberikan sumbangan..." sambil mencoba menelpon Satpam.
Tapi kemudian terdiam saat mendengar pemuda itu berkata, "Aku datang ke sini memenuhi undangan Sinta."
Karyawati tahu, ada pemesan atas nama Sinta. Dia lalu meletakan kembali telponnya sambil berkata dengan heran, "Mejanya di pesan tepat di tengah restoran."
Pemuda itu langsung menuju ke sana.

Cerita Mengampuninya Urusan Tuhan Tapi Mengirimnya Ke Tuhan Adalah Urusanku


Orang-orang kaya di sana langsung memperhatikan pemuda berpakaian lusuh itu yang duduk di meja tengah. Beberapa pelayan memberikan minuman dan makanan mahal kepada pemuda itu. Membuat para orang kaya itu semakin tercengang.

Saat pemuda itu menikmati makanan dan minuman yang enak itu. Para pelayan berbicara, "Apa kita tidak salah melakukan itu?"
Pelayan lain menyahut, "Bagaimana kalau dia bukan yang dimaksud pemesan atas nama Sinta, habislah kita."
Pelayan lainnya juga terlihat khawatir, "Mustahil, pemuda lusuh itu bisa kenal dengan gadis kaya."



Tiba-tiba terlihat dari luar kaca restoran yang cuma berlapiskan kaca transparan, seorang gadis keluar dari mobil mewahnya. Dia lalu masuk restoran dan langsung menuju tempat pemuda itu berada, sambil bilang, "Bagaimana makanan dan minumannya, apa kamu suka?"
Pemuda itu sambil meminum air, dia melihat ke arah gadis yang baru datang dan duduk di depannya, "En... Uhuk uhukk gkk" Pemuda itu kaget hingga terbatuk-batuk melihat gadis cantik di depannya.
Gadis itu lalu mengambil tisu dan melap wajahnya yang bekas semburan makanan pemuda itu. Dengan wajah datar lalu berusaha tersenyum.
Tampak para orang kaya dan pelayan di restoran itu terlihat kesal, dan sama-sama berkata dalam hati, "Dasar pemuda gembel itu, pasti tidak sengaja menolong gadis cantik itu, lalu si gadis membalasnya dengan mentraktir di restoran ini tapi malah bersikap tidak sopan gitu."

Sedangkan di meja pemuda gembel dan gadis cantik serta kaya itu. Mereka saling menatap. Pembicaraan dengan nada rendah berlangsung dan tidak bisa didengar oleh orang yang duduk di meja sekitar mereka.
Lalu pemuda dan gadis itu bersama-sama melihat ke arah Tv di restoran itu yang sedang menayangkan sebuah berita, "Pemerintah meminta agar warganya jangan melakukan pemerkosaan untuk menghentikan laju kematian warga yang terbukti telah melakukan pemerkosaan. Jumlahnya kematian yang mencapai 4000 orang, membuat pemerintah melakukan pengumuman tersebut."

Gadis cantik dan kaya bernama Sinta itu lalu menanggapinya, "Kenapa pemerintah repot-repot segala menghitung kematian warga yang memang pantas mati. Seharusnya pemerintah lebih fokus menemukan pembunuhnya."
Pemuda itu tersenyum, "Sama seperti dulu, pemerintah kita tidak berubah. Seperti kurang kerjaan, menghitung jumlah kematian yang dituduh disebabkan virus corona padahal kematian itu karena penyakit bawaan mereka dulu. Seharusnya mereka menyibukan diri untuk membuat obatnya."
Sinta lalu mengambil sesuatu di dalam tasnya sambil berkata, "Itu bukan urusan kita."

Sinta kemudian memberikan sebuah amplop, pemuda itu melihat sekilas ke dalam amplop itu lalu berkata, "Kasus seperti ini tidak akan ada habisnya."
Sinta terlihat murung, "Selama hukum di negara ini tidak tegas maka mereka terus melakukannya. Seperti yang dilakukan pada gadis lugu yang masih SMA, diperkosa oleh 5 pria bahkan dari lingkungan pemerintah, kepala desa. Dan para pelaku hanya dihukum beberapa tahun saja. Tidak dihukum mati. Pemerintah beralasan, Tuhan saja mengampuni umatnya masa kita tidak."
Pemuda itu meremas amplop dan berkata, "Mengampuninya adalah urusan Tuhan, tapi mengirimnya ke Tuhan adalah urusanku."

Hujan yang sedang turun lebat, tiba-tiba muncul suara guntur yang nyaring. Orang kaya dan pelayan di restoran itu kompak menutup matanya. Seketika saat mereka membuka mata, pemuda berpakaian lusuh itu sudah menghilang. Di meja tengah hanya tampak Sinta yang duduk sendiri sambil memakan-makannya dan di depan tampak cuma piring dan cangkir yang kosong dan hanya tersisa bekas-bekas makanan dan sedikit minuman.

(Selesai)
Related Posts

Related Posts

Post a Comment