SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Bagian 1 - Ada Psikopat Diantara Kita

Cerita bagian 1: Login - Ada Psikopat Diantara Kita

Semua guru dan pelajar yang masuk ke dalam sekolah sudah melakukan tes dan bebas dari corona. Di hari pertama kami masuk sekolah, semuanya di kumpulkan di lapangan sekolah. Kepala sekolah lalu melakukan pidato;

"Selamat kalian adalah anak-anak yang beruntung bisa login disini eh maksudnya bersekolah di sini karena merupakan satu-satunya sekolah di dunia ini yang bisa melakukan pembelajaran secara langsung tanpa masker di tengah wabah pandemi ini. Sehingga kalian bisa mendapatkan ilmu yang berharga dan semua kebutuhan disediakan lengkap di sini dan semua kebutuhan itu sudah diperiksa dan hasilnya bersih dari virus...


...Gudang makanan kita sanggup menghidupi kita selama satu semester dan langsung kenaikan kelas. Selama kita bisa hidup secara hemat. Anggap saja ini adalah latihan menghadapi akhir zaman. Hahaha."

Suasana seketika suram. Kepala sekolah berusaha melawak tapi terlalu seram. Lalu beliau mencoba mengakhiri pidatonya,

"Demikian yang bisa bapak sampaikan. Selamat menjalani karantina belajar. Hehehe."


Sambil berbisik aku berkata, "Karantina apanya?  Ini malah mirip penjara. Sekeliling sekolah di kelilingi pagar tinggi dan hanya ada satu gerbang sekolah yang di rantai dari dalam."


Kami lalu dibubarkan dan masuk ke kelas masing-masing. Aku lalu masuk ke ruangan kelas 10A dengan beberapa pelajar seusiaku yang tidak aku kenal. Aku duduk paling belakang. Dan kemudian guru kelas masuk. Beliau langsung memberikan sambutan, "Kalian bersepuluh akan belajar di sini. Di lantai atas ruangan ini terdapat 10 kamar buat kalian yang masing-masing sudah dilengkapi wc dan kamar mandi. 5 kamar menghadap utara dan 5 kamar sisanya menghadap selatan. Silahkan berdiskusi untuk memilih dan menempati kamar yang mana?"


Suasana kelas langsung gaduh seketika. Terutama para siswi. Tentunya karena dikelas kami terdapat 6 siswi dan 4 siswa. Yang artinya salah satu siswi terpaksa ada di kamar yang satu lorong dengan kamar para siswa.


Lalu guru berteriak, "DIAMMM..."

Semua terdiam.

Kemudian guru bicara, "Sebelum berdiskusi silahkan perkenalkan nama kalian!"


Seorang siswa langsung berdiri, "Andi" Kemudian duduk, pasti dia cowok pendiam.


Seorang siswa langsung berdiri, "Aku Bayu, kemaren aku lihat ada kerumunan orang, aku kira ada kecelakaan jadi aku mau nonton. Eh ternyata pendaftaran sekolah. Dan akhirnya aku ada di sini sama kalian. Hahaha..."

Cuma dua orang yang tertawa, dua-duanya cewek termasuk aku. Bayu pasti orangnya humoris.


Kembali seorang siswa yang berada di pojok berdiri. Kami bahkan tidak sadar ada orang di sana. Dia langsung berkata, "Aku Candra, dan aku tidak suka becanda."

Seketika suasana hening. Dia misterius sekali.


Tiba-tiba langsung dilanjutkan siswa terakhir, "Dan aku Deni. Aku tidak suka merusak suasana." Ucapnya sambil tersenyum. Dia menggunakan jaket biru sehingga terlihat keren. Ditambah dia juga tampan. Ku pikir cuma aku sendiri yang memperhatikannya. Ternyata beberapa siswi lain juga memperhatikannya. Aku langsung minder karena banyak saingan.


Kemudian perkenalan dilanjutkan para siswi. Seorang gadis yang terlihat cantik langsung berdiri dan berkata, "Namaku Eka, dan guru tahu siapa aku?" Ucapnya sambil melihat ke arah Deni. Dia ini gak sopan sekali.

Lalu guru yang terlihat heran tetap menanggapinya, "Oh iya, bapak lupa bilang. Di kelas kita ada murid yang berprestasi. Dia dapag nilai tertinggi di sekolah sebelumnya. Dan dia bernama Eka."

Dan Eka tersenyum. Dia bukan hanya cantik, tapi juga pintar tapi aku lebih suka nyebut dia sombong.


Lalu dilanjutkan siswi dengan kaca mata, "Aku Fani..." Ucapnya menunduk dan bersuara lemah.

Dan langsung ditanggapi Bayu, "Hah apa kamu bilang Family... Aku jadi gak enak kamu anggap keluarga."


Kemudian... 'BRAKKK' suara meja dipukul, siswi berambut pendek bersuara, "Namanya Fani tahu. Dan aku Gebi..." Ucapnya dengan senyuman sinis. Dia terlihat seperti gadis tomboy.


Seorang gadis yang dari tadi tertawa selalu kalau dengar Bayu bicara akhirnya dapat giliran berdiri, "Aduhhh perutku sakit... Kalau dengar lawakan dikit aja bawaannya ketawa mulu."

Dan ditanggapi oleh Eka, "Kamu mau ngenalin diri apa curhat, kasian tuh yang urutan terakhir, udah siap-siap kenalin diri pakai acara nyatet segala." Sambil lihat aku, aku jadi grogi.

Lalu gadis periang tadi berkata, "Iya... Iya, namaku Hana. Puas kau?"


Siswi selanjutnya berdiri dengan gemetar, "Tolong jangan marah-marah aku takut. Namaku Ima. Makasih perhatiannya." Ucapnya lalu duduk sambil megang boneka yang dia remes. Aku bingung mau sebut dia gadis penakut atau gadis horor. Jangan-jangan itu boneka santet lagi, bentuknya seram gitu.


Kali ini tiba giliranku, sambil memegang catatan yang aku tulis tadi aku berkata, "Sebagai murid terakhir yang memperkenalkan diri, sebelumnya perkenankan aku menyapa teman-teman. Salam kenal buat Andi yang pendiam, Bayu yang humoris, Candra yang misterius, Deni yang keren, Eka yang pintar, Fani yang pemalu, Gebi yang tomboy, Hana yang periang, Ima yang penakut. Dan perkenalkan aku, Jesika."

Dan guru langsung berucap, "Bagus Jesika, kamu ketua kelasnya. Ini kunci kamar kamu bagikan. Silahkan berdiskusi. Bapak pergi dulu." dan terlihat guru itu bergegas keluar entah kenapa.

Aku kaget... Kebetulan sekali aku duduk paling depan di muka meja guru.


Aku yang bengong, dihampiri Fani yang duduk di meja sebelahku dan berkata, "Mungkin dulu dikelas ini pada jam tepat saat ini ada murid yang tewas dulu. Jadi guru takut ada di kelas di jam ini."

(Bersambung)

Related Posts

Related Posts

Post a Comment