SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Cerpen Romantis Pernikahan Karena Perjodohan Yang Jadi Nyata

Aku pikir cerita perjodohanku sama seperti cerpen romantis romantis pernikahan karena perjodohan yang jadi kenyataan. Tapi belum sampai menikah perjodohanku banyak mendapatkan hambatan dan lika-liku. Aku dijodohkan oleh keluargaku karena aku sudah bekerja tapi masih belum punya pasangan. Dua kali aku dijodohkan, bahkan gadis kedua bernama Ruri sepertinya tidak mau denganku. Itu membuatku hubungan perjodohanku untuk kedua kalinya gagal. Ruri tidak pernah membalas pesanku lagi semenjak kami dipertemukan pertama kali. Aku sadar diri karena wajahku tidak tampan, dia jadi tidak suka. Aku lalu menyerah terhadap perjodohan ini, jadi aku mengalah. Meskipun begitu aku tetap merasa terbebani oleh tuntutan keluargaku. Hidupku jadi tenang. Yang aku lakukan jadi serba salah.


Awal Cerpen Romantis Pernikahan Karena Perjodohan Dimulai

Aku menuju sebuah puncak gunung untuk mengakhiri beban hidupku ini. Tapi saat dalam perjalanan aku mendapatkan halangan. Banyak orang berkumpul di jalan menanjak. Membuatku tidak bisa lewat dengan motorku. Jadi aku turun dari motor, untuk mengatasi masalah yang terjadi dengan cepat.

Aku bertanya pada orang di sana, “Apa yang terjadi?”

Orang itu jawab, “Ada kecelakaan mobil tunggal yang mengakibatkan mobil itu tersangkut di sebuah pohon dan mau jatuh ke jurang. Orang-orang tidak berani lewat, takut getaran akan membuat mobil itu akan terjun bebas ke jurang.”

Aku lalu bertanya untuk memastikan, “Jadi ada orang di dalam mobil itu?”

Dan dijawab orang itu, “Iya, supir mobil itu masih terperangkap di dalam.”

Membuatku emosi seketika, “Kenapa semuanya diam saja, tidak menolongnya?”

Dan dijawab, “Kami takut, jika kami mendekat maka mobil itu jatuh, jadi kami menunggu tim sar untuk datang.”

Aku menjawabnya dengan kesal, “Pohon yang menahan mobil itu tidak akan bertahan sampai tim sar itu datang...”

Aku mengambil tali yang awalnya aku siapkan untuk diriku, aku mengikatkannya ke bahu dan pinggangku. Lalu ujung satunya aku lemparkan ke tengah kerumunan. Sambil berteriak, “Daripada diam saja, buat diri kalian berguna...”

Aku lalu menuju mobil yang mau jatuh itu, dengan hati-hati aku mencoba membuka pintu belakang. Aku melhat pengemudi mobil itu, diam sambil gemetar. Aku lalu bilang dari belakang ke dia, “Lepaskan sabuk pengamanmu, raih tanganku?”

Dia lalu membalasnya, “Apakah kau tim sar?”

Aku jawab, “Bukan, tapi kamu bisa mempercayaiku!”

Dia lalu marah, “Tidak, kamu membahayakanku, pergi. Aku akan menunggu tim sar.”

Aku membalasnya, “Aku tidak yakin, tim sar tiba tepat waktu. Jadi aku akan tetap di sini, kamu bisa memilih percaya Tim sar atau aku.”

‘Krekkk’ Tiba-tiba mobil bergerak. Suasana mencekam seketika.

Dia lalu meraih tanganku, “Aku percaya padamu.”

‘Brakkk’ Dalam sekejab ketika dia meraih tanganku, mobil yang dia kendarai jatuh ke jurang. Kami pun bergelantungan berdua di sisi jurang. Hingga para warga menarik kami ke atas.


Pengemudi mobil itu lalu bilang, “Terima kasih telah menyelamatkanku.”

Dan aku jawab, “Wargalah yang menyelamatkan kita berdua.”

Lalu dia balas, “Tidak akan terjadi tanpa kamu.”

Aku mengabaikannya, dan kembali ke motorku. Untuk melanjutkan ke puncak dan melakukan sesuai tujuanku di awal. Baru ingin menyentuh motorku, tiba-tiba ada yang memegang tanganku sambil bilang, “Antar aku menemui ayahku. Dia pasti khawatir.”

Aku lalu melihat ke arahnya, “Kamu pengemudi mobil tadi, bukannya kamu bisa naik ambulan.”

Dia memperkenalkan diri sambil menjawabnya, “Iya, perkenalkan namaku Lina dan aku ingin kamu yang mengantarku.”

Aku lalu memperkenalkan diri balik dan juga kembali bertanya, “Kalau namaku Jaya, kenapa harus aku, aku punya urusan!”

Dan Lina menjawab, “Kamu harus bertanggung jawab, karenamu aku masih hidup.”

Mendengar Lina bicara tentang hidup, membuatku tertegun.

Lalu Lina duduk di jok belakang motorku, “Ayo, antar aku. Ayahku pasti sangat mengkhawatirkanku karena aku putri semata wayangnya.”

Aku lalu mengantar Lina sesuai permintaannya.


Sesampainya di rumahnya. Sambil menunggu pintu pagar di buka, Lina bertanya ke aku, “Apa kamu sudah punya pasangan?”

Aku mengingat Ruri yang merupakan gadis terakhir yang dijodohkan ke aku yang tidak membalas pesanku lagi. Artinya dia tidak mau denganku. Dengan lemas aku jawab, “Tidak ada.”

Lina lalu berucap sambil tersenyum, “Baguslah, kalau begitu aku ingin jadi pas...” Belum selesai Lina berucap. Ayah Lina membukakan pintu pagar.

Lina lalu mengenalkanku, “Ayah, ini...” Belum selesai dia berucap lagi.

Ayah Lina langsung memotong dan bilang, “Ayah tidak setuju kamu berhubungan dengan pemuda itu.”

Lina terlihat terkejut, “Tapi ayah, aku baru pertama memperkenalkannya.”

Ayah Lina lalu menjawab, “Laki-laki apa yang membuatmu datang terlambat, penampilannya juga terlihat bukan dari keluarga kaya. Dia tidak cocok untukmu.”

Aku langsung jawab, “Iya om, aku memang dari keluarga sederhana. Dan aku baru mengenal anak om.”

Ayah Lina kemudian terlihat bingung. Lalu dia menjelaskan, “Aku mengalami kecelakaan mobil, ayah. Mobilku hampir terjun ke jurang tapi tersangkut. Orang-orang tidak berani menolongku dan memiilih menunggu tim sar. Cuma dia yang berani menolongku dan mengeluarkan dari mobil untuk menyelamatkanku. Mobilku jatuh baru Tim Sar datang, jika...”

Ayah Lina kembali memotong pembicaraan, “Ayah setuju kamu berhubungan dengannya.”

Lina tercengang kemudian tersenyum. Ayah Lina juga langsung memelukku, “Terima kasih Nak telah menyelamatkan anak tunggal om.”

Aku menjawab, “Saya memang tidak bisa diam saja melihat orang kesusahan.”

Ayah Lina kembali bilang, “Silahkan mampir ke rumah om dulu.”

Tiba-tiba Hpku berbunyi. Pesan dari tante bahwa Ruri sedang ada di rumah bersama walinya yaitu kakaknya. Semangat hidupku kembali muncul. Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah Ruri datang untuk bilang siap untuk menikah? Akupun penasaran dan tidak sabar. Lalu ingin segera pergi, “Maaf om, saya harus pergi.”

Tiba-tiba hujan mulai turun. Ayah Lina kembali berucap, “Kalau kamu memang harus pergi, pakailah salah satu mobil om. Kamu bisa bawa mobilkan?”

Aku terkejut tapi merasa tidak enak, lalu jawab, “Jangan om, kitakan baru kenal.”

Lina lalu berucap, “Nanti kamu sakit, aku tidak bisa hidup tanpamu. Pakailah!”

Aku bingung dengan ucapannya, tapi berpikir tidak ada salahnya. Jika nanti aku sakit, pernikahanku sama Ruri nanti tidak akan lancar, “Baiklah, kalau begitu, saya pinjam mobilnya om.”

Ayah Lina bilang, “Tidak perlu pinjam, mobil yang kamu pilih akan jadi milikmu!”

Aku benar-benar kaget, “Serius, om! Tapi kenapa?”

Ayah Lina menjawab, “Karena kamu telah menyelamatkan anak om.”

Jawaban ayah Lina masuk akal menurutku. Jika aku menjadi ayah Lina, aku mungkin juga melakukan hal sama seandainya kaya. Lalu aku terima, “Kalau begitu terima kasih banyak om.”


Aku dibuat takjub ketika melihat di garasi, semuanya merupakan mobil mewah. Tapi aku harus memilih, jadi aku memilih mobil mewah warna merah yang merupakan warna favoritku. Aku kemudian pergi menggunakan mobil itu. Saat sampai di rumah. Aku pakir di halaman rumah. Di depanku sudah ada Ruri, gadis yang dijodohkan denganku. Sedang duduk bersama kakaknya di teras rumah. Saat aku ingin keluar dari mobil, aku mendengar perbincangan mereka.

Ruri bilang, “Kakak harus tanggung jawab karena telah menjodohkanku. Aku tidak suka dengannya, selain wajahnya tidak tampan, dia juga tidak kaya. Jadi kakak harus bilang ke dia bahwa perjodohan ini batal.”

Di dalam mobil, seketika hatiku hancur. Tapi aku mulai pasrah. Aku keluar dari mobil dengan putus asa dan lemas. Dan mereka melihatku dengan wajahnya tercengang. Saat aku ingin bicara, Ruri langsung duluan bicara, “Itu mobilmu?”

Dengan nada lemas aku jawab, “Iya.”

Aku lalu bicara kembali, “Jika kamu tidak ingin dijodohkan denganku. Aku terima.”

Tiba-tiba Ruri jawab, “Kata siapa aku tidak mau? Aku mau kok!”

Aku langsung terkejut sekaligus senang mendengarnya.


Cerpen Cinta Dalam Perjodohan

Setelah kejadian itu, keesokan harinya, Ruri yang awalnya sangat lama membalas pesanku bahkan pernah tidak membalas pesanku sama sekali. Sekarang sangat cepat membalasnya. Itu membuatku bahagia. Tiba-tiba saat aku asik saling membalas pesan di Hp. Lina, gadis kaya yang aku tolong kemaren datang ke rumahku dan disambut oleh tanteku. Aku lalu menghampiri mereka. Tante langsung bicara denganku, “Dia kenalanmu? Sangat cantik!”

Sepertinya tante senang aku berhubungan dengan Lina. Aku lalu berucap, “Lina Cuma teman biasa. Bukannya tante sudah jodohkanku.”

Tante lalu berbisik, “Hus, jangan keras-keras. Dibandingkan Ruri, Lina kenalan barumu ini terlihat jauh lebih baik untukmu.”

Aku jadi bingung, apa mau tante.


Aku lalu menghampiri Lina. Dan menyapanya, “Kamu tahu rumahku di sini?”

Lina lalu berucap, “Aku lupa bilang, mobil ayah punya GPS jadi bisa kami lacak.”

Aku terdiam.

Lina kemudian kembali bicara, “Tenang saja, aku tidak akan ganggu privasimu lagi. Aku ke sini mau berikan Ponsel yang terhubung dengan GPS mobil ini. Karena sekarang mobil ini milikmu, maka alat pelacaknya juga punyamu. Dan sekaligus aku kasih surat-surat mobil ini.” Ucapnya sambil tersenyum.

Aku lalu menerimanya, “Oh iya, aku lupa minta surat-suratnya. Kamu ke sini naik motor?”

Lina jawab, “Iya, aku trouma bawa mobil sendiri sejak kejadian kemaren. Tapi kalau kamu mau ajak aku jalan dengan mobilmu, tidak masalah.”

Tiba-tiba Ruri datang sambil bilang, “Tidak akan aku izinkan.”

Lina langsung tanya, “Dia siapa Jaya?”

Ruri langsung jawab, “Aku tunangannya!”

Lina lalu melihatku, “Bukannya kamu bilang, tidak punya pasangan.”

Aku lalu jawab, “Tadinya saat kamu tanya aku, aku seperti tidak punya pasangan. Karena aku ragu Ruri mau denganku. Tapi setelah pulang dari rumahmu. Ruri bilang mau denganku. Jadi bisa dikatakan kami baru saja resmi jadi pasangan.”

Lina terlihat pucat. Dia lalu pergi.


Capek-Capek Kerja Eh Jodohnya Anak Tunggal Kaya Raya

Aku mengkhawatirkan Lina, sepertinya dia lagi tidak baik-baik saja. Bahaya jika dia bawa motor dalam kondisi kurang sehat. Aku lalu pergi dengan mobil untuk mencarinya. Saat dekat taman kota, aku melihat motor Lina terpakir di sana. Aku lalu menghentikan mobil dekat motornya. Aku lihat Lina sedang duduk di taman dengan tisu yang berserakan di sekitarnya. Orang-orang di taman juga melihat ke arah kami. Aku langsung bertanya ke Lina, “Kenapa kamu menangis?”

Lina melihatku ke arahku, lalu dia jawab, “Aku disakiti.”

Tentu aku kesal, “Jahat sekali, siap orang yang menyakitimu. Biar aku beri dia pelajaran!”

Lina langsung berhenti menangis. Wajahnya tampak terkejut sambil menatapku. Dia berdiri di hadapanku lalu menunjuk ke depan. Aku berbalik ke belakang sambil bilang, “Mana orang yang menyakitimu itu? Aku tidak melihatnya.”

Lina menyentuh bahuku. Aku berbalik dan seketika Lina menamparku, ‘Plakkk’ Sambil berteriak, “Kamu orangnya, dasar tidak peka.”

Aku memegangi pipiku yang sakit sambil tanya dengan syok, “Aku tidak pernah menyakitimu!”

Lina lalu menjawab, “Ayah ingin menjodohkanku denganmu karena kamu telah menyelamatkan hidupku. Itu juga yang membuatku mencintaimu. Tapi kenapa kamu malah jadian dengan perempuan lain. Itu menyakiti hatiku.”

Aku kemudian menjawab, “Masa aku capek capek kerja eh jodohnya anak tunggal kaya raya sepertimu.”

Lina lalu bilang, “Memang kenapa? kamu harus tanggung jawab karena telah membuatku mencintaimu.”

Aku menjawabnya, “Tapi, Ruri pasti akan tidak akan terima.”

Lina kembali teriak lebih keras dari sebelumnya, “TAPI KAMU HARUS TANGGUNG JAWAB...” Hingga orang-orang di taman mendekati kami.

Mereka menatap tajam, “Oy, jadi laki-laki harus tanggung jawab.”

Satu persatu dari mereka memarahiku, “Jangan mau enaknya saja, tanggung jawab enggak.”

Bahkan perempuan di sana ikut memarahiku, “Iya, tanggung jawab, nikahi dia.”

Aku lalu menjawabnya, “Aku mau tanggung jawab nikahi Lina, tapi aku sudah punya tunangan, Ruri pasti tidak terima.”

‘Bukkk’ Tiba-tiba ada menonjokku. Aku kaget yang menonjokku Ruri. Ruri lalu berucap, “Aku akan terima, kamu nikahi Lina. Itu karena aku sama-sama perempuan. Jika Lina butuh pertanggung jawabanmu, maka aku akan mengalah.” Ruri kemudian pergi.

Kerah bajuku ditarik oleh warga sambil berucap, “Jadi bagaimana, tunanganmu sudah terima kamu nikahi perempuan lain buat tanggung jawab.”

Aku langsung jawab, “Aku akan nikahi Lina.”

Lina langsung mendorong warga itu dan memelukku, “Terima kasih, ini seperti cerpen romantis pernikahan karena perjodohan yang diidamkan oleh ku.”

(Selesai)

Related Posts

Related Posts

Posting Komentar