SwyoB3gOrS3jN40l0bzNAi6WurWsCFy1dg9FF8yK

Cerpen Cinta Romantis Banget Bikin Baper

Cerita ini merupakan cerita pendek (cerpen) dengan kategori cinta yang isinya mengandung kisah romantis banget dan bikin baper bagi pembacanya. Menceritakan seorang perempuan dan laki-laki yang baru bertemu dan langsung jadian pada hari itu juga. Meskipun baru mengenal tapi hubungan cinta mereka seperti terikat erat seperti hubungan kekasih yang sudah lama.

Gadis Paling Ramah Di Dunia

Saat aku  duduk di warung, di depan warung terdapat banyak kumpulan orang dan itu tidak membuatku tertarik. Tapi ketika datang seorang gadis cantik yang ikut menonton. Membuat aku mulai tertarik. Meskipun dalam hati ini sudah menduga-duga, "Ah dia cantik, pasti sombong dengan laki-laki yang tidak di kenal dan tidak tampan sepertiku."


Aku lalu berdiri di sampingnya, dan sedikit mencoba menoleh ke arahnya. Dia tidak merasa terganggu dengan kehadiranku dan asik menonton. Aku mulai mencoba bertanya, "Lagi nonton apa?" Sakin gugupnya, suaraku sangat rendah. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku, dan itu membuatku kaget, aku langsung menoleh ke arah lain. Sangat takut saat dia tahu aku memperhatikannya. Kemudian aku mendengar suara bidadari yang berucap, "Aku lagi mononton adu ayam."

Aku lalu berpaling ke arah asal suara. Gadis itu terlihat tersenyum ke arahku. Duniaku serasa melayang. Lalu dia berpaling ke muka sambil menunjuk sesuatu, "Lihat ayam hitam itu, aku menjagokannya untuk menang."

Aku lalu melihat ke arah pertandingan ayam. Lalu dia berucap lagi, "Tapi jangan sampai kamu menggunakan uang."

Aku menoleh ke arahnya, diapun menoleh ke arahku, "Itu judi namanya, ha ha." Ucapnya sampai tertawa kecil. Aku membalasnya dengan senyuman.


Padahal aku cuma mengucapkan satu kalimat saja. Tapi dia membalasku dengan banyak kalimat. Itu membuatku senang mendengarkannya. Dia kemudian mulai meminta respon padaku, "Kamu tahu kenapa ayam jantang saling bertarung?"

Aku jawab, "Tidak tahu."

Dia lalu melihat ke arahku sambil berucap dengan senyuman, "Ayolah, coba tebak?" Ucapnya seakan-akan sudah kenal lama denganku padahal aku baru kenal dia.

Aku menjawab sambil tersenyum, "Untuk mendapatkan gelar ayam jago mungkin."

Dia kemudian tertawa, "Ha ha, jawabanmu lucu juga." Sambil menepuk dadaku.

Lalu dia kemudian bilang, "Ada benarnya juga jawabmu, tapi menurutku ayam jantan itu bertarung selain dibilang jago kalau jadi pemenang, dia juga ingin menunjukan kepada ayam betina, lihatlah aku kuat pasti bisa menjagamu."

Ucapannya sungguh penuh makna membuatku kagum.

Aku bingung harus bilang apa, tapi aku berusaha meresponnya untuk menghargai dia bicara, "Sungguh menarik menurutku."

Tiba-tiba hujan turun.


Kami berdua berteduh di dalam warung. Sedangkan kumpulan orang tersebut tetap menonton adu ayam dibawah hujan. Aku lalu melihat pakaiannya basah dan dia terlihat kedinginan. Aku lalu melepaskan jaketku dan bilang padanya, "Pakai ini."

Dia langsung menerima dan memakainya, lalu bertanya, "Bagaimana denganmu? Apa tidak kedinginan."

Aku jawab, "Pakaian ku kering, jadi bila kena angin, tidak terlalu dingin."

Kemudian dia balas, "Terima kasih jaketnya."

Aku juga membalasnya dengan senyuman.


Suasana jadi kaku ketika dia tidak mulai bicara lagi seperti tadi. Sepertinya dia kecewa tidak bisa nonton pertarungan ayam kesukaannya. Aku lalu mencoba mengajaknya bicara, "Kamu datang sendiri, pacarmu mana?"

Dia jawab, "Aku tidak punya pacar." Membuatku semakin bahagia mendengarnya.

Lalu aku tanya lagi, "Gak ngajak teman?"

Dia selalu menjawab pertanyaanku, meski tatapannya tidak mengarah padaku dan tertuju pada kerumunan banyak orang itu. Dia tidak pernah mengabaikanku. Dia benar-benar gadis yang aku suka. Dia lalu jawab lagi, "Temanku takut, karena ini juga tontonan judi sabung ayam. Meskipun aku bilang kita tidak ikut judi dan cuma nonton saja. Mereka tetap takut jika polisi datang."

Tiba-tiba Hpku berbunyi, terdapat pesan masuk bertuliskan, 'Bagaimana di tempatmu?'

Lalu gadis itu bicara membuatku kaget, "Siapa yang kirim pesan? Pacarmu kah!"

Aku dengan gugup jawab, "Bukan, aku sama sepertimu belum punya pacar."

Aku segera membalas pesan agar tidak ada gangguan lagi, 'Cukup ramai'.


Tiba-tiba hujan teduh, dia lalu bilang, "Hujan sudah reda, ayo kita tonton lagi!"

Saat bersamaan, pesan kembali masuk, 'Kami akan ke sana, bersiaplah!' Membuatku kaget dan tanpa sadar memegang tangan gadis itu sambil bilang, "Tunggu dulu."

Dia berhenti sambil bertanya, "Ada apa?"

Aku bingung harus bilang apa dan aku mulai menanyakan sesuatu hal yang ngasal, "Kamu tahu kenapa mereka tetap nonton meskipun tadi hujan?"

Dia diam dan berpikir lalu jawab, "Aku rasa karena mereka sudah mengeluarkan uang untuk adu ayam itu, jadi mereka tidak ingin rugi dengan melewatkannya."

Dia seperti ingin pergi lagi, lalu aku tanya lagi dengan cepat, "Sampai segitunya mereka dan rela mengorbankan kesehatannya, apa menurutmu itu tidak berlebihan?"

Dia terlihat agak kesal tapi masih mau menjawab pertanyaanku, "Itulah dia, pengaruh buruk dari judi."

Tiba-tiba sekelompok orang datang dan terdengar suara tembakan, "DOARDDD"

Lalu diikuti teriakan, "KAMI POLISIII, JANGAN LARI..."

Kumpulan orang-orang yang nonton tadi berhamburan berlari ke mana-mana. Sekelompok orang yang datang juga lari mengejar. Kemudian salah satu dari mereka masuk dan menuju ke arah kami. Aku langsung mengelengkan kepada dan berusaha kodeku sampai dengannya, pria itu lalu berucap, "Kalian ikut judi sabung ayam?"

Gadis itu jawab sambil gemetar, "Tidak."

Aku juga jawab, "Kami tidak ikut-ikutan, seandainya kami ikut. Kami pasti ada dekat sana karena sudah mengeluarkan uang jadi tidak ingin rugi dengan melewatkannya."

Pria itu jawab, "Baguslah. Lain kali kalau menemukan hal seperti ini laporkan.?

Gadis itu jawab, "Iya."

Pria itu lalu teriak ke pemilik warung, "Anda juga, laporkan kalau depan warungmu ada yang seperti ini. Kalau kami dapati dua kali, jangan salahka kami, jika warung ini kami tutup."

Pemilik warung menjawabnya sambil terbantah-bantah, "Ba baik pak Polisi."


Aku dan gadis itu lalu berjalan bersama menjauhi lokasi itu dengan jalan santai. Gadis itu lalu berucap, "Hampir saja aku menghabiskan masa mudaku di dalam penjara."

Aku tersenyum mendengarnya dan membalasnya, "hukuman judi tidak separah itu, tidak memenjarakan mu sampai tua."

Dia melihat heran ke aku, dan aku yang gak sengaja berucap seperti itu langsung mengalihkan topik, "Kita belum kenalan, namaku Jaya."

Dia kembali tersenyum sambil menjabat tanganku dan bilang, "Kalau namaku, Silva."

Aku tanya lagi, "Rumahmu di mana? Biar aku temani kamu sampai tujuan."

Dia jawab, "Rumahku jauh loh, kalau kamu tidak keberatan. Silahkan!"

Kami terus berjalan bersama.


Selama perjalanan yang memakan banyak waktu, kami seakan tidak ingin menyia-nyiakan waktu itu. Sehingga kami terlibat dalam percakapan yang bersentuhan dengan ranah pribadi. Silva tanya, "Kenapa kamu belum punya pacar?"

Aku jawab jujur, "Karena tidak ada yang mau dengan laki-laki seperti aku. Karena setiap aku mendekati perempuan, dia pasti menjauh."

Dia lalu berucap, "Siapa perempuan itu? Biar aku marahin dia!" Ucapannya membuatku tertawa.


Aku kemudian merasa heran dan balik bertanya ke Silva, "Kok, kamu yang cantik ini tidak punya pacar?"

Dia kembali tersenyum, lalu jawab, "Makasih sebelumnya. Aku dilarang pacaran sama ayahku sebelum umur 25 tahun."

Langsung aku tanya dengan cepat, "Sekarang umur kamu berapa?"

Dia jawab, "Saat ini umurku 24 tahun, tapi tanggal 26 Agustus nanti akan jadi 25 tahun."

Aku lalu bilang, "Hari ini tanggal itu. Jadi kamu sudah 25 tahun."

Dia sedikit bingung, dan mencoba mengingat, "Oh iya, aku lupa hari ini aku ulang tahun. Kebiasaan karena aku jarang merayakannya."

Aku memberanikan diri mengatakannya langsung, karena aku takut, jika terlambat dia akan dimiliki orang lain. Gadis secantik dia pasti banyak laki-laki yang nasir. Jadi aku berucap, "Bolehkah aku jadi pacarmu?"

Ku Ingin Kau Bahagia

Aku bilang kepada Silva, “Bolehkah aku jadi pacarmu?”

Dia tampak syok dan terdiam. Aku menoleh ke arah lain karena tidak sanggup melihat jawaban darinya. Tapi itu membuatku kaget karena banyak orang melihat di samping kami. Aku baru sadar kami berada di depan Halte Bus. Orang-orang melihat kami dengan ekspresi tercengang. Tiba-tiba tanganku di pegang Silva sambil berkata, “Ayo menjauh dari sini, Bus mereka sudah tiba. Kita menghalangi jalan mereka.” Itu membuatku syok seketika.


Setelah kejadian itu, pada keesokan harinya. Silva menghubungiku. Karena sebelum aku pamit kemaren, aku sempatkan untuk meminta nomor kontaknya. Dia ingin bertemu denganku. Akupun segera menemuinya.


Di sebuah Kafe, aku terkejut melihat Silva sedang bersama tiga laki-laki yang tidak aku kenal. Aku mendekati mereka perlahan. Silva yang menyadariku datang segera mendekatiku balik. Aku langsung tanya, “Siapa mereka?”

Silva tersenyum, “Mereka teman-temanku, Adit, Beni dan Dito.”

Kemudian mereka balik bertanya, “Siapa dia, Silva?”

Silva langsung memperkenalkanku, “Kenalkan, dia pacarku, namanya Jaya.”

Tampang mereka terperangah dan seperti tidak percaya. Akupun juga begitu. Aku segera memegang tangan Silva dan mengajaknya menjauh.


Saat aku dan Silva sudah jauh dari mereka. Silva langsung bilang, “Kamu jangan cemburu, mereka baik sama aku. Aku diperlakukan seperti layaknya ratu oleh mereka.”

Aku langsung balas, “Mereka pasti ada maunya.”

Dia tampak marah, “Aku sudah kenal mereka jauh sebelum kamu.”

Aku terdiam tidak bisa berkata-kata, karena yang dia ucapkan benar.

Lalu dia menyadari aku yang terdiam kemudian berucap, “Aku tahu kamu mengkhawatirkan aku, tapi tenang saja. Mulai saat ini aku akan kasih tahu kamu setiap aku ingin jalan bersama mereka.”

Akupun mengalah dan setuju, “Baiklah.”

Kami lalu kembali menghampiri mereka. Kami nongkrong di Kafe bersama dan aku mencoba mengenal lebih jauh mereka. Terlihat dengan jelas mereka yang tidak suka dengan kehadiranku. Tapi aku tidak peduli.


Malam harinya aku dihubungi oleh Silva, “Kamu tidak mau ngajakku jalan?”

Aku balas, “Bukannya siang tadi sudah?”

Dia balas, “Itukan aku yang ngajak.”

Aku benar-benar bingung karena itu menurutku sama saja tapi menurutnya beda. Aku coba jelaskan, “Aku lagi kerja, ini demi kamu juga. Buat modal kita menikah.”

Akhirnya dia mengerti dan mengalah, “Baiklah, selamat bekerja. Yang semangat ya.”

Mendengar balasanya itu membuatku bahagia.


Tidak beberapa lama Silva menghubungiku kembali, “Aku diajak makan bersama ke restoran dengan teman-temanku, bolehkan? Nanti aku mati kelaparan loh di rumah.”

Meski dia seperti minta izin ke aku, tapi aku seperti tidak dikasih kesempatan buat nolak, dan aku balas, “Iya boleh, tapi di tempat yang banyak orangnya.”

Dia lalu balas, “Ok. Kami akan ke restoran Cerpen.id karena di sana tempatnya ramai.”

Hanya beberapa saat, perasaanku tidak tenang. Aku terpaksa meninggalkan pekerjaanku dan menyusul ke tempat Silva sekarang berada.


Sampai di restoran yang di bilang Silva, aku kaget melihat Silva seperti setengah sadar dan di bawa oleh teman-teman laki-lakinya ke luar restoran menuju ke sebuah mobil. Segera aku menghampirinya. Tepat dihadapan mereka aku berucap, “Mau kalian bawa ke mana Silva?”

Mereka tampak kaget, lalu salah satu dari mereka yaitu Adit berucap, “Kami akan mengantar Silva pulang.”

Aku lalu mencoba bicara ke Silva, “Silva, kamu baik-baik saja.”

Silva tidak menjawabku. Benar-benar bukan dirinya yang biasa. Aku sangat marah, “Apa yang kalian lakukan ke Silva?”

Beni menjawab, “Dia minum terlalu banyak sampai mabuk.”

Tiba-tiba pelayan dari restoran itu datang, “Dia bohong. Aku merekam mereka saat memasukan sesuatu ke minuman gadis itu.”

Aku langsung berucap, “Kalian mau berbuat jahat ke Silva?”

Terlihat mereka kaget. Aku langsung meraih Silva kepelukanku, “Aku tidak akan biarkan, kalian merebut kebahagian Silva.”

Mereka lalu kabur.

Tiba-tiba Silva sadar, “Panas!”... ucapnnya sambil mencoba membuka bajunya. Segera tangannya aku tahan.

Aku lalu berkata kepada pelayan yang masih ada di dekat kami, “Siapa namamu?”

Pelayan itu menjawab, “Namaku Ruma.”

Aku lalu bertanya, “Ruma, bisakah aku minta tolong padamu?”

Ruma bertanya balik, “Apa itu?”

Aku sampaikan maksudku, “Aku ingin kamu temani kami. Aku akan mengantar Silva ke rumah sakit. Tapi aku takut dia melakukan hal yang aneh. Jadi aku minta kamu menjaganya dalam perjalanan.”

Ruma langsung jawab, “Baik, aku bantu. Tunggu sebentar, aku akan minta izin dulu dengan atasanku, untuk pulang lebih awal.”

Belum sempat Ruma masuk kembali ke restoran, tiba-tiba terdengar suara, “Aku izinkan.”

Ruma melihat ke arah asal suara dan langsung bilang, “Terima kasih Bos.”

Kemudian Ruma menghampiriku. Aku segera menyerahkan Silva. Lalu membantu aku dan Ruma membantu Silva untuk ke dalam mobil yang aku kendarai saat menuju ke tempat ini.


Di rumah sakit pada pagi harinya. Silva baru sadar. Silva langsung kaget saat melihatku, “Kenapa kamu ada kamarku?”

Aku langsung jawab, “Ini bukan kamarku, tapi kamar rumah sakit.”

Dia merasa lega kemudian terlihat bingung, “Apa yang terjadi padaku...”

Belum sempat aku menjawab, dia langsung mengomentari Ruma yang tiba-tiba datang dan berdiri di sampingku, “Siapa dia?”

Aku lalu menjawab pertanyaan terbarunya, “Dia Ruma temanku.”

Silva terlihat cemberut dan bertanya kembali, “Kamu tidak pernah bilang punya teman?”

Aku jawab, “Aku baru saja berteman dengannya saat kamu tidak sadarkan diri.”

Silva terlihat kesal, “Apa? Kamu langsung deketin cewek lain di saat aku lagi tidak sadar.”

Aku tersenyum dan menjawab, “Kamu cemburu?”

Silva membalasnya dengan masih dalam keadaan kesal, “Wajar, aku cemburu. Kan kamu pacarku.”

Aku langsung sambung, “Begitu juga denganku saat kamu berteman dengan pacar cowok itu.”

Dia langsung terdiam.

Kemudian Ruma bicara, “Aku punya rekaman para teman cowokmu memasukan sesuatu ke dalam minumanmu. Bahkan rencana mereka ingin memakaimu beramai-ramai dan bergantian juga terekam diam-diam olehku.”

Aku mengambil Hp Ruma lalu bilang ke Silva, “Jadi bagaimana keputusanmu. Tetap bela temanmu, maka rekaman ini tidak akan di serahkan ke Polisi.”

Silva lalu mengambil Hp itu dari tanganku dan menonton video rekaman tersebut. Wajahnya tampak Syok. Aku jadi mulai khawatir, “Kamu tidak apa-apa, Silva?”

Silva lalu memberikan Hp itu kembali ke aku sambill bilang, “Kamu benar, jika cewek punya banyak teman cowok maka itu sangat berbahaya. Silahkan kamu bantu aku untuk melaporkannya.”

Saat aku ingin pergi. Silva kembali berucap, “Ruma kamu mau ke mana?”

Ruma lalu menjawab, “Temenin, Jaya.”

Silva lalu bilang, “Kamu temenin aku di sini.”

Aku Cuma tersenyum, melihat dia cemburu. Aku lalu melihat ke arah Ruma. Dan Ruma juga terlihat sedang menunggu keputusanku. Aku lalu mengangguk.

Ruma kemudian bilang, “Baiklah Silva, aku akan tinggal dan temenin kamu.”

Sekian

Demikian akhir dari cerita tentang cerpen cinta romantis banget bikin baper semoga menyenangkan untuk di baca. Sebagai situs yang akan mengumpulkan cerita-cerita pendek hasil karangan satu orang yaitu pemilik blog ini. Berharap ceritanya bisa menyentuh perasaan pembaca. Terima kasih sudah membaca.

Related Posts
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar